Piala Dunia 2014, Canggung Setengah Hati

Piala Dunia 2014 adalah salah satu acara terbesar bagi rakyat Indonesia yang penggemar sepak bola selain hajatan besar pemilihan legislatif dan presiden serta calon presiden. Piala Dunia 2014 itu sendiri digelar di negara yang kultur bolanya sangat kental dan penghasil pemain-pemain top kelas dunia, Brazil.




Banyak hal dipersiapkan oleh pemerintah Brazil dalam penyelenggaraan acara terbesar sejagad ini. Tak bisa dipungkiri, sebagai negara berkembang Brazil tak sehebat Eropa dalam persiapan. Seperti halnya Afrika Selatan yang kondisi perekonomiannya tidaklah lebih baik dari Brazil. Indonesia sendiri sepertinya belum juga mampu untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia jika dilihat dari prestasi sepak bolanya di kancah internasional meski belakangan ini menunjukkan trend peningkatan. Brazil sepertinya terseok-seok 'memaksakan diri' untuk siap.

Bagi saya pribadi, yang mungkin juga dirasakan oleh publik tanah air lainnya, penyelenggaraan Piala Dunia 2014 ini sepertinya menjadi 'tontonan setengah hati'. Tidak bisa menikmatinya secara penuh. Totalitas kegembiraan dan kebersamaan para pencinta sepak bola. Tapi ini hanya asumsi saya saja loh. :D

Setidaknya ada 3 (tiga) alasan kenapa Piala Dunia 2014 terasa canggung untuk dinikmati. PERTAMA, adalah ketidakpantasan saat kita menikmati bahagia dan itu ada di atas penderitaan orang lain. Demonstrasi yang digelar warga Brazil menolak kebijakan pemerintah yang dianggap lebih mengutamakan bola daripada kesejahteraan rakyatnya menjadi pemandangan yang mewarnai menjelang dan saat piala dunia dilangsungkan. Miris rasanya saat kita teriak "goooooool" dan jagoan kita menang, tapi di saat yang sama, warga Brazil yang demonstran dalam jumlah besar itu teriak-teriak menuntut perbaikan kualitas hidup. Ironi.

KEDUA, Piala Dunia 2014 ini berlangsung di Brazil dan dinikmati publik Indonesia yang dalam saat bersamaan sedang memiliki hajat pemilihan presiden dan wakil presiden. Totalitas menikmati bola kembali menjadi terpecah dan tidak fokus. Pertarungan politik yang ada di level atas juga merembet ke grass root, yaitu mereka yang supporter setia masing-masing capres-cawapres. Meski diharapkan mampu mendamaikan perseteruan para pendukung masing-masing capres-cawapres, tampaknya masih ada 'kebekuan' dan 'rasa dingin' yang menyelimuti komunikasi pascaperseteruan. Tapi semoga tidak. Semoga cair dan hangat karena bola. :)

KETIGA, Piala Dunia 2014 ini juga berlangsung pada saat bulan Ramadhan, bulan puasa penuh berkah. Canggungnya menikmati bola tatkala ia harus dibenturkan dengan bersamaan masuknya waktu ibadah. Ramadhan adalah bulan di mana setiap detiknya berpotensi pahala yang berlipat ganda. Bulan bonus dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. :)

Saya ikut prihatin jika saat gol piala dunia terjadi di mana tim kesayangan anda melesakkan bola ke gawang musuh bebuyutan anda, tapi pada yang bersamaan anda harus berwudhu dan berangkat menunaikan shalat subuh berjamaah di Masjid. Saya prihatin tapi bahagia. Prihatin saya karena euforia menyaksikan langsung tak bisa anda nikmati, bahagia saya, anda bisa  menjalani jamaah subuh di Masjid yang mana tak pernah kita lakukan di hari-hari biasa. :D



Akhir kata, kembali ke Brazil, kehebatan Brazil dalam mempertahankan tradisi bolanya di tengah kondisi yang serba kekurangan menjadi contoh bagi siapa saja, negara mana saja untuk bercermin. Brazil tetap konsisten mencetak bintang-bintang besar dunia. Tetap melahirkan generasi baru penerus Ronaldo, Ronaldinho, Neymar. Kapan kita?

Selamat menikmati PIALA DUNIA 2014.

 

Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

3 comments:

  1. kalau PD diadakan di Indonesia apa nanti juga akan di demo spt itu ya?

    ReplyDelete