Pemilu Legislatif, Pilih Citra atau Cari yang Kerja

Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 digelar mulai tanggal 9 April 2014 untuk tingkat legislatif, musim kampanye yang berlangsung mulai 11 Januari 2014 hingga 5 April 2014 ini menjadi ajang pengenalan calon legislatif pada publik konstituennya.

Musim kampanye tentunya tak membuat serta merta seluruh elemen masyarakat mampu menyerap informasi terkait program-program yang ditawarkan calon legislatif dan partainya. Tak semua pula mampu mempercayai begitu saja apa yang menjadi program-program yang ditawarkan saat kampanye.Media massa menjadi salah satu titik kunci yang mampu memberikan informasi terus menerus melalui pemberitaannya terkait dengan partai dan pemerintahan, rekam jejak partai menjadi rujukan pemilih dalam menentukan wakilnya yang duduk di legislatif kelak.

Selain media massa, sosok caleg, kedekatan seorang caleg dengan konstituen pemilihnya menjadi salah satu faktor lain yang menentukan. Kerja sosial atau kiprahnya di pemerintahan dan kemasyarakatan yang dilakukan oleh seorang caleg sangat memungkinkan sosoknya dapat dipilih.

Faktor lainnya, partai pengusungnya memungkinkan seorang caleg dapat dipilih meski tak dikenal oleh konstituen pemilihnya. Meski disinyalir partai tak mutlak memberikan jaminan atas kualitas calon legislatif yang disodorkannya.

Akan tetapi semua kembali kepada para pemilih, mau mempercayakan suaranya atau tidak pada calon legislatif yang tersedia? Merujuk pada data KPU, tak bisa diungkiri bahwa meningkatnya angka golput dari pemilu legislatif 2004 ke 2009 menjadi kekhawatiran penyelenggara pemerintahan. Dari 23% di 2004 menjadi 29% di 2009. Angka yang sangat besar untuk dipertaruhkan dalam sebuah proses demokrasi. Itu artinya banyak massa mengambang yang tak tersentuh oleh partai politik dan figur politikus.

Golput atau golongan putih menyeruak menjadi semacam ideologi baru di kalangan pemilih muda dan pemilih pemula. Para pemilih golongan putih ini menyatakan bahwa legislator yang ada dan duduk mewakili suara rakyat di gedung-gedung perwakilan itu kinerjanya tak memuaskan dan memenuhi harapan rakyat.

Sebagian lagi menyatakan/mendeklariskan bahwa memilih golput itu tak menyelesaikan masalah. Justeru melalui pemilu inilah perlunya ada perbaikan sistem terkait keterwakilan suara rakyat pada legislatornya.

Akan tetapi kembali ke angka golongan putih, aspirasi yang tak terserap melalui pemilu menjadi semakin tinggi dan mengkhawatirkan. Mayoritas mengatakan kecewa dengan kinerja dewan dan ketidakpercayaan pada partai politik dan anggota legislatifnya. Kinerja sebagian dewan dan sebagian pemimpin negeri ini yang dianggap tak serius dan cenderung bermain citra, suka memakai “lipstik” dan mementingkan kepentingan pibadi, kelmpok dan golongannya membuat sebagian besar golongan putih ini meradang dan mengungkapkan ketidakpercayaannya dengan abstain dari pemilihan umum.

Sebagian besar rakyat merindukan para legislator dan eksekutor di pemerintahan ini bekerja untuk rakyat dengan kesungguhan dan ketulusan mensejahterakan rakyat. Bekerja dengan penuh dedikasi menuntaskan masalah rakyat sepenuh hati. Bukan memperkaya diri mengatasnamakan berjuang untuk rakyat. Itu yang bikin mual.

Cari yang Bersih

Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, jangan salahkan jika angka golongan putih makin besar dan amarah rakyat akan mengakumulasi tumpah dalam pengadilan jalanan. Konflik berdarah-darah. Naudzubillah.

Untuk diketahui, anggaran pemilu 2014 ini mencapai 24,1 trilyun rupiah, dan itu bukan angka yang kecil untuk sebuah prosesi besar bernama pesta demokrasi ini. Sebagian pengamat mengatakan tak layak membiarkan angka besar ongkos pesta demokrasi ini terhambur dalam pesta sia-sia yang tak menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Cari yang Kerja


Oleh karena itu, himbauan dan ajakan dari banyak kalangan untuk tidak golput pada pemilu 2014 ini makin terlihat kuat. Tak kurang dari KPU sendiri berupaya keras meningkatkan partisipasi pemilih pada pemilihan umum 2014 ini.


Yang unik, bisa dilihat dari iklan salah satu iklan rokok yang tayang per tanggal 6 April ‎‎2014 di berbagai stasiun tv nasional. Iklan ini memberi isyarat pada para pemilih ‎Indonesia. Pendidikan politik yang disampaikannya begitu cerdas dan mengena dalam ‎konteks mengelola komunikasi bahasa. Tak menggurui, halus dan tak menghakimi, ‎hanya dengan sepatu dia bicara: #CariyangKerja dan kerja.‎

Kembali pada pemilih, ingin perubahan yang lebih baik, silakan tentukan pilihan, ‎‎#CariyangBersih dan #CariyangKerja .Tetapkan yang mau mewakili, yang mau ‎bekerja tanpa lelah untuk konstituen yang diwakilinya. Atau jika memang ingin ‎tenggelam dalam pesona citra, silakan pilih saja yang piawai bersolek dan merias diri. ‎Semuanya kembali kepada pemilih.‎


Selamat memilih.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

3 comments:

  1. Miris ya, pak. anggaran segitu besarnya terhambur sia-sia.

    ReplyDelete
  2. iya, andai saja para politisi itu amanah semuanya, keren semuanya, mungkin gak sia-sia pemilu ini

    ReplyDelete
  3. Biar mata elit partai terbuka lebar. Pemenang pemilu adalah GOLPUT. Rakyat sdh GAK PERCAYA sm partai 'n calegnya.

    ReplyDelete