Jahat, Dosa, Luka, Mati, dan Perang

Pramoedya Ananta Toer (wikipedia Jawa)
"Jika orang banyak berbuat jahat, ia akan takut dosa, takut luka, takut mati dan takut berperang" - Pramoedya Ananta Toer.
Pernyataan Toer itu sepertinya sudah tidak relevan lagi atau sedikit banyak sudah tereduksi oleh fakta banyak kejadian di berbagai belahan daerah bumi nusantara saat ini.

Sebelum lebih jauh menelisik kalimat tersebut, perlu ada beberapa kajian mengenai latar siapa dan mengapa Toer menuliskan itu.

Pramoedya Ananta Toer, seniman sastrawan pesohor pemuka kebudayaan di era Soekarno dan Kemerdekaan. Ialah tokoh kebudayaan petinggi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dicap sebagai organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI). Meski sebagian menolaknya.

Pemikiran Toer sebagai tokoh Lekra tak bisa disangkal berangkat kegelisahannya sebagai pribumi jajahan yang penuh perlawanan dan materialisme yang bernuansa sosialis-marxis menjadi semacam warna politiknya.

Posisi 'politik' kebudayaannya menjadikannya berseberangan dengan para pelaku kebudayaan di masanya. Hingga pada akhir orde lama tumbang, ia dijebloskan ke tahanan oleh rezim orde baru dengan status tahanan politik. Imbas dari posisinya yang kiri ekstrim dituduh terlibat dalam gestapu.

Pemikirannya yang kiri berlandaskan 'materialisme dialektika' itulah bagi saya dan pertentangannya dengan seniman tengah dan kanan menjadikan sebagian besar karyanya cenderung 'sinis' atas apa yang berbau agama yang dianggapnya sebagai candu.

Dalam salah satu karyanya, Tetralogi Pramoedya Ananta Toer yang fenomenal itu -saya sendiri sangat kagum dan terhipnotis untuk membacanya sampai habis- dia sempat menyebutkan yang kurang lebih begini, "siapapun yang masih percaya takhayul, dia tak akan pernah mencapai sesuatu dalam hidupnya". Pernyataan tersebut senada dengan pernyataan di atas yang menjadi tema bahasan tulisan ini. Menyindir halus pada mereka yang beragama atau memiliki kepercayaan pada sesuatu yang bersifat gaib dan tak tampak oleh indera.

Maksud Pramoedya Ananta Toer

"Alergi"nya pada agama dan para pemeluknya melahirkan sinis dan gugatan pada realitas sosial yang mengelilinginya. Toer menganggap bahwa orang yang telah banyak berbuat jahat dan lalu kembali beragama, bertobat, menurutnya akan melahirkan sikap takut dosa, takut mati karena masih belum sempat bertobat, dan ujung-ujungnya takut untuk berperang.

Relevansi Kekinian

Meski terasa benar, akan tetapi relevansi atas pernyataan Toer tersebut perlu digugat balik.

Kemungkinan pertama, orang yang sudah banyak berbuat jahat belum tentu takut dosa, meski bisa jadi takut mati, juga takut berperang. Karena banyaknya timbunan kejahatannya, semakin larut dalam dosa, semakin tak takut Tuhan. Semakin ia cinta kejahatannya, semakin dia takut kehilangannya, semakin takut dia mati, dan semakin takut dia untuk berperang, karena peperangan hanya akan membuatnya tak bisa menikmati hasil kejahatannya yang bisa jadi adalah kenikmatan-kenikmatan materi.

Contoh termudah yang bisa ditemui adalah kejahatan korupsi, semakin banyak kejahatan korupsi yang dilakukannya, semakin dia mencintai dunianya, semakin dia tak takut dosa, semakin dia takut mati dan berperang. Asumsi saya bahwa Toer bertendensi menyerang kaum beragamapun runtuh karena saat ini para koruptor cenderung "sangat beragama" dari sisi lahiriah. Berpeci dan bermukena. Tapi mereka tak takut dosa.

Kemungkinan Kedua, orang yang berbuat jahat lalu bertobat dan takut dosa, bisa jadi sebaliknya, tak takut mati dan tak takut berperang. Dogma agama melekat sangat kuat, takut mati bukan pilihan terbaik, karena syahid dalam peperangan seperti yang diobral di setiap peperangan melawan penjajahan selalu dikumandangkan. Paling gamblang saat pertempuran melawan sekutu, 10 Nopember 1945.

Jika demikian, semoga asumsi saya salah bahwa tulisan Toer di atas ditujukan kepada kaum beragama -yang termanifestasi dalam 'takut dosa'-, tapi lebih pada mereka yang tak punya ideologi dan idealisme selain hanya pada cinta dunia dan bersembunyi dalam dogma-dogma agama atau ideologi atau idealisme apapun yang mengamankan posisi mereka dalam menikmati dunia hasil kejahatannya.

Sekian dari saya. Bagaimana menurut anda? Mari berbagi pikiran secara elegan dan terbuka. :)

----
Thanks to Shei.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

1 comments:

  1. tetralogi buru baru, kalo saya baru baca yang bumi manusia sama rumah kaca pak. kalo masalah agama memang menyatakan agama sebagai candu, soalnya pada saat itu agama justru menjadi tameng penguasaan dalam melakukan penindasan :D

    ReplyDelete