Nasihat Gus Ali Tulangan di SMAN 11 Surabaya

Kamis (23/01) pagi hingga siang, lapangan SMAN 11 Surabaya dipenuhi manusia beraroma surga dengan atribut yang memang dipahami bersama sebagai busana muslim.Masih di bulan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW, SMAN 11 Surabaya memperingatinya dengan mengundang da'i kondang dari Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, K.H. Agoes Ali Masyhuri. Kepopuleran beliau sebagai pendakwah tak diragukan lagi. Di kalangan santri yang lazim dilekatkan dengan warna hijau, sang kyai satu ini dikenal akrab dengan jamaahnya, keras, dan lugas dalam menyampaikan materi dakwahnya. Tak peduli siapapun saja yang ada di hadapannya. Meski begitu, humor yang mengalir di sela-sela ceramah agamanya, tak kalah cerdas dan blak-blakan dibandingkan dengan materi intinya.

KH. Agoes Ali Masyhuri

Dihadiri oleh ketua DPRD Kota Surabaya, Bapak H. Mahmud, jajaran komite sekolah dan orang tua, serta alumni dan sebagian besar siswa SMAN 11 Surabaya, KH. Agoes Ali Masyhuri menyampaikan bahwasanya Nabi Besar Muhammad SAW adalah manusia luar biasa kecintaan Allah SWT. Rahasia sukses beliau mengubah peradaban tatanan sosial masyarakat Arab yang dijalani hanya dalam waktu 23 tahun adalah karena kemurnian iman meng-ESA-kan ALLAH SWT.

Kehebatan Muhammad melampaui sejarah panjang pemimpin dunia sepanjang masa di manapun berada dalam mengubah tatanan sosial masyarakat. Muhammad juga adalah pemimpin yang dicintai pengikutnya dalam jumlah yang besar baik semasa hidup hingga ribuan tahun sepeninggalnya. Tak ada satupun pemimpin dunia yang menyamainya. Menurut teori sosial, butuh paling tidak tiga generasi untuk mengubah pola budaya masyarakat, bila satu generasi disepadankan dengan umur Nabi yang 63 tahun, maka butuh 189 tahun untuk mengubah pola perilaku sosial masyarakat.

Itulah salah satu kehebatan Nabi Muhammad SAW. Keindahan akhlaknya luar biasa, bahkan Tuhan pun menyanjungnya, meskipun demikian, Nabi SAW tak meminta dikultuskan dipuja-puja dan dituhankan. Keindahan akhlaknya yang mempesona diakui bahkan oleh musuhnya. Itu salah satu alasan kenapa Nabi Muhammad SAW tak pernah digambarkan atau dilukiskan. Khawatir akan pengkultusan yang akhirnya menyimpang dari akidah Islam. Keteladanan yang dicontohkannya dilandasi kebersihan hati dalam keimanan meng-ESA-kan Allah SWT.

Pendidikan moral yang diwariskan nabi kepada penerusnya didasarkan pada keteladanan, kebersihan hati yang patut ditiru oleh kalangan pendidik/guru. Tak cukup dengan penguasaan materi yang mumpuni ditunjang kecanggihan teknologi multimedia, akan tetapi membutuhkan keteladanan perilaku/akhlak yang dapat diteladani oleh para siswanya.

Keindahan akhlak nabi adalah daya magnet luar biasa besar dalam menggerakkan hati para pengikutnya. Guru sepatutnya tak hanya mengandalkan kemampuan akademis. Tapi juga pendekatan psikologis untuk mengetahui apa yang ada di benak muridnya. Tak cukup terhenti di situ, penting bagi guru untuk mendoakan murid-muridnya menjadi orang sukses di kemudian hari. Menjadi agen-agen perubahan sosial yang transformatif dari keadaan yang kurang baik menjadi baik.

Pada akhirnya, KH. Agoes Ali Masyhuri berpesan kepada para pendidik untuk kembali jalan Tuhan. "Barang siapa hidup dengan ilmu, akan menemukan kemudahan. Barang siapa hidup dengan seni akan menemukan keindahan. Barang siapa hidup dengan agama akan terarah perjalanan hidupnya."

Taushiyyah Maulud Nabi Muhammad SAW akhirnya diakhiri dengan doa pendek menjelang waktu shalat dhuhur tiba.

Semoga bermanfaat, ila yaumil qiyamah. Amin.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment