Ustadz Meninggal, Preman Mati, Apa Bedanya?


Adakah beda antara kematian seorang yang dicintai dan yang dibenci?

Adakah beda antara kematian seorang pelaku kebaikan dan pelaku kejahatan?

Atas nama kemanusiaan, ada yang menggugat dan mempertanyakannya. Kenapa berbeda? Bukankah keduanya sama-sama manusia yang layak untuk diperlakukan sama atas kematiannya?

Ya, sebagai manusia keduanya layak diperlakukan sebagaimana mestinya. Keduanya berhak untuk dihormati atas kemanusiaannya.

Satu yang pasti bahwa yang mati tidak pernah meminta perlakuan ini itu terkait semua perihal prosesi kematiannya pada masyarakat sekelilingnya.

Lalu kenapa berbeda perlakuannya?

Taruhlah misalnya kenapa kematian seorang ustadz sekelas Jefry Al-Bukhori menjadi sorotan luar biasa baik dari masyarakat yang ada di sekelingnya maupun dari rakyat Indonesia secara kesuruhan. Kenapa kematian beliau yang mendadak itu menjadi heboh dan merebut hati jutaan manusia Indonesia?

Jawabnya adalah HATI. Kecenderungan hati dari mereka yang mencintai sang almarhum. Yang mati adalah manusia yang dalam hidupnya menebar cinta dan kebaikan, ia menambatkan kesan persaudaraan/kecintaan di setiap hati yang ia singgahi disadari ataupun tidak.

Menjadi sangat wajar bila kemudian ia mati ditangisi, banyak hati yang merasakan kehilangan. Ketidakhadirannya bakal tak mampu mengisi kekosongan hati para hati yang sudah tertambat padanya.

Menjadi layak jika yang mati adalah figur yang dikenal baik budi bahasanya oleh banyak orang. Tak hanya soal rating media yang akan melonjak tajam karena nilai kejadiannya, tapi banyak dari mereka para awak media yang secara personal juga kehilangan.

Sementara itu di sisi lain, kematian seorang pelaku kejahatan, sebut saja preman (istilah yang bikin ribut di ranah hukum terkait definisinya jika sudah sampai di meja hijau), seringkali tak dianggap, berlalu begitu saja seolah memang kematiannya sudah sangat pantas dirayakan dengan kegembiraan atau diabaikan atau diacuhkan karena memang tak perlu.

Jawabannya adalah HATI. Hati mereka orang-orang di sekelilingnya yang ditinggalkan. Seberapa besar dampak kematiannya tergantung seberapa besar nilai kebermanfaatan hidupnya. Jika hidupnya bermanfaat hanya untuk kalangan preman dan gerombolannya, pastinya yang kehilangan hanya mereka saja. Sisanya hanya merasakan dampak buruk kehidupannya sebagai preman.

Logika sederhana, apakah seseorang mau menghadiri bersilaturrahmi memenuhi undangan dari orang yang tak disukai? Menurut saya, jelas tidak akan didatangi undangan tersebut, dan itu kecenderungan yang berlaku bagi kebanyakan orang. Itu baru orang yang tak disukai, belum lagi orang yang dibenci karena menjadi objek kejahatannya.

Sebaliknya, kebalikan dengan yang dicintai, disayangi, dihormati, gak diundangpun seseorang akan rela meluangkan waktunya untuk datang, hadir, bersilaturrahim untuk dia yang dicintai, disayangi, dihormati meski tak ditemui sekalipun. Sangat manusiawi.

Jadi sudah jelas, jawabnya ada pada HATI, dan kecenderungan hati khalayak ramai tergantung pada AMAL PERBUATAN semasa hidup si mati, menjadi dicintai dan memunculkan empati atau menjadi dibenci melahirkan caci maki.

Meski begitu, sebagai orang yang diharapkan bijak, kita semua dituntut untuk tetap memperlakukan dengan baik siapapun yang meninggal. Soal beda perlakuan yang lahir dari dorongan hati karena cinta atau benci, itu sudah menjadi perkara masing-masing yang tak bisa diatur-atur.

Wallahu A'lam
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

2 comments:

  1. semoga kita termasuk orang yang baik-baik seperti ustadz jefri albukhori tadi, sehingga kematian kita kelak akan ditangisi oleh banyak orang yang merasa kehilangan, dan dikenang dengan kebaikan-kebaikan kita.

    bukan sebaliknya

    aamiin..

    ReplyDelete