Coretan Anak SMA: Senyum Monalisa


Merajut nyawa,
Membuat jantung hidup,
Mengambil sesendok nafas dengan melihat lukisan paras ibu yg sedih.
Apakah aku bisa memperbaiki coretan.nya yang salah?
Senyumya harus lebih hebat dari monalisa :)
Sebelum obat ini menyayat kecil ginjalq akan kubuat da vinci akan iri akan senyum ibuku :)
AKU BERJANJI"


"Akan Kubuat Da Vinci akan iri akan senyum IBUKU" - by Jakjak Kajaka



Wajahnya sama sekali tak menunjukkan sakit berat, bahkan terlihat sangat sehat. Anak SMA yang menurutku biasa dan rata-rata ini hidup seperti halnya anak SMA lain, tak menunjukkan keistimewaan lebih (akademis), kecuali ia pegiat seni yang handal (pemain band). Sama harmonisnya dengan kehidupan yang berjalan di sisinya. Hingga pada akhirnya kudengar kabar bahwa ia telah meninggal dunia pada sebuah malam melalui sms kawan sekelasnya.


Terkejut? Iya. Karena meski ia sama halnya dengan siswa lain, tapi ia kukenal sejak kelas X. Apalagi namanya dalam penyebutan tak jauh berbeda dengan nama anakku. Zakaria. Itu nama yang tertera di absen kelasnya yang saat itu langsung kubuka dan kulihat memang catatan masuk sekolahnya tergolong sering absen karena alasan sakit.


Terdiam agak lama, lalu kubuka facebooknya, dan ternyata benar, ucapan duka cita mendalam dari kawan-kawan dekatnya menghiasi wall-nya. Terakhir berkomunikasi dengannya melalui facebook sekira dua minggu sebelum kepergiannya. Sakit yang menderanya tak juga dipahami oleh pihak medis untuk menjatuhkan vonis penyakit macam apa yang ia derita.


Perihal sakitnya sendiri sudah kuketahui dari wali kelasnya yang jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan UAS sudah memintakan dispensasi atas Zakaria yang sering tak masuk itu. Dan ternyata, hebatnya, karyanya di kelas lumayan bagus (kategori A) untuk mata pelajaran yang kuajarkan.


Lalu penasaran atas apa yang menimpa dirinya, kutelisik lebih jauh tentang riwayat hidupnya, riwayat pertemanannya, juga riwayat keluh kesahnya. Dalam suasana duka menyelimuti, kutemukan satu pernyataan yang menghentak dan mengiris hati betapa ia begitu kuat memperjuangkan hidupnya, memperjuangkan sekolahnya, memperjuangkan impiannya. Anak SMA yang polos dan biasa itu menorehkan catatan sederhana akan ibunya yang merawat sakitnya dalam tinta emas di akhir sejarah hidupnya.


Quote dari Zakaria: Senyum Monalisa


Aku tergetar membacanya. Aku tercekam emosi merasakan betapa berharganya degup jantung dan aliran nafas ini mengalir. Aku terguncang dalam emosi luka akan sakitnya, dalam emosi cinta akan sosok ibunya. Anak SMA ini begitu paham betapa dahsyatnya masterpiece Monalisa hingga ia ingin menjungkirbalikkan emosi dunia dengan membuat Da Vinci iri akan senyum ibunya.

Bahkan aku sendiripun tak mampu menatap diri dalam cermin mempertanyakan sebesar apakah cintaku pada ibuku? Tak berani bergumam dalam diri seberapa berharganya aliran nafas dan degup jantung yang berdetak. Kalimatmu menampar kesadaranku, kalimatmu akan terus kuabadikan dalam ingatan betapa berharganya hidup.

Zakaria, adalah sepenggal kisah anak SMA yang terhenti di penghujung 2011 di bulan Desember. Sosoknya menyisakan banyak kenangan indah bagi siapapun yang pernah mengenalnya. Bahkan di ulang tahunnya yang 4 bulan setelah kepergiannya ke alam baka, teman-temannya masih setia memberikan ucapan dan doa baginya. Hingga delapan bulan berlalu, beberapa temannya masih suka mengunjungi wall-nya dan meninggalkan pesan buatnya seolah ia masih hidup. Pun demikian aku, hingga kini, masih setia mengingatnya, mengingat kalimatnya yang terus mengobarkan semangat hidup, semangat cinta, semangat kasih sayang.

Dalam air mata yang tak terhenti mengalir setiap kali membaca pesan terakhirnya, kukirimkan selalu doa buatnya, "Zak, betapa bangga ibumu padamu memiliki anak sepertimu, dalam pedih dan perihnya kehilangan dirimu, kuyakin doanya untukmu mengantarmu ke tempat persemayaman terindah dari yang pernah kau bayangkan. Semoga Allah memberikan yang terbaik buatmu."
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

4 comments:

  1. ga bisa ngomong lagi saya habis baca tulisan ini , , ,

    ReplyDelete
  2. Anak SMA yang sudah matang pemikirannya. Hampir satu tahun dia pergi, tapi semua masih mengenangnya. semoga engkau tenang di sana, ibumu sangat bangga denganmu :-)

    ReplyDelete
  3. aq yakin ibumu bangga memiliki anak sepertimu jak... smoga allah ridlo padamu..

    ReplyDelete
  4. Turut Berduka untuk dek Zakaria..
    dia anak SMA 11 mas? Adek kelasku ya berarti.

    baca ini langsung jleb.. sudahkan saya bikin ibu saya senyum? atau malah membuat beliau terlalu cemas karena memikirkan saya?

    Terima kasih dek Zakaria yang sudah buat saya berkeinginan yang sama.. membuat senyum ibu saya melebihi indahnya senyum monalisa.

    ReplyDelete