The Avengers 2012: Heroisme dan Sinisme

Siapa yang tak tahu film The Avengers? Film yang dirilis awal Mei serentak di seluruh Indonesia ini menjadi trending topic di media sosial dan media konvensional dengan segudang komentar.

Tak kurang saya sendiri ikut menyaksikan The Avengers ini bersama rekan-rekan yang memang penasaran atas hebohnya pemberitaan terkait film yang dibuat berdasarkan cerita komik Marvel. Sehari setelah diluncurkan, saya langsung nonton.




Dari sejak pertama masuk bioskop, saya cukup kaget dengan penayangan The Avengers ini secara pararel di 5 studio sekaligus. Hebatnya lagi, hal yang sama masih terjadi di beberapa hari kemudian.

Bagi saya, ada beberapa faktor yang menjadikan film ini menjadi pemberitaan heboh. Di antara adalah kekuatan para tokoh super hero Marvel yang sebelumnya sudah memiliki fans baik dari komik dan filmnya. Ambil contoh tokoh Iron Man yang sudah dibuat filmnya hingga 2 kali yang merebut pasar penonton Amerika cukup besar. Jika boleh berlogika dangkal, aksi 1 superhero bisa laku keras, apalagi kalau 6 superhero dalam 1 film, bisa dipastikan ekspektasi penonton akan kehebohan aksi superhero pasti besar.

Yang berikutnya terkait dengan promosi produsen film The Avengers melaui media jelas tak bisa dinafikan. Promo kehebohan film the avengers melalui materi-materi promonya sangat menggoda mata untuk tidak menontonnya.

Secara umum, film THE AVENGERS sangat menghibur, 6 tokoh super hero buatan Marvel ini mengadu kehebatannya dalam menghadapi serbuan makhluk dari planet lain. Pemaduan kelebihan masing-masing tokoh superhero dalam menghadapi serbuan musuh yang mengancam bumi boleh dibilang pas. Saling mengisi masing-masing kekurangan superhero. Meski demikian, teknologi yang digunakan dalam pembuatan film ini tak bisa dikatakan lebih baik dengan film lain dalam genre yang sama.

Nilai lebih lainnya, film ini mengumbar humor sinis di setiap adegannya. Iron Man (Robert Downey Jr.) Seorang milyuner kaya dengan seragam besi berteknelogi super tinggi merupakan karakter yang over confidence. Sinis dalam dialog-dialognya yang membuat film ini kaya makna. Di sisi lain, kepolosan Captain America sebagai hero yang tertua menjadi bahan menarik untuk dikaji, kepemimpinan dan ketulusannya yang menjadikan 6 superhero berpadu. Ya, heroisme dan humor sinisme menghasilkan "kemerdekaan" bertindak. Mengatasi permasalahan bumi yang terancam. Toh, pro dan kontra pascapeperangan tetap muncul di media, tanggapan sinis dan heroik warga Amerika mewarnai akhir film. Berimbang.

Akhirnya, sebagai film, The Avengers memang layak untuk ditonton oleh keluarga. Layak untuk mengisi akhir pekan dengan humor-humor heroik.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

4 comments:

  1. Wah jadi ngerti neh ternyata seorang pak gempur doyan yg namanya BIOSKOP juga :) lho..heheh

    Pisss...

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, saya pencinta bioskop sejak lahir, mas. :D

    ReplyDelete
  3. wah nice mas, bisa inget detail nya di film
    apalagi kalo sambil nonton bioskop trus sempet mikirin review nya, cool !! :)

    ReplyDelete