Anarkisme Mahasiswa, Anarkisme Penguasa, dan Pro Kontra di Social Media

Tayangan demonstrasi mahasiswa, buruh, dan masyarakat menolak kenaikan BBM 1 April 2012 di media elektronik secara langsung pada akhir Maret lalu menyisakan polemik besar yang berkembang di social media. Pro dan kontra pada anarkisme mahasiswa demonstran.

Pertama, saya tak akan mempersoalkan istilah anarkisme yang sempat diluruskan oleh salah seorang kawan saya, kekerasan mahasiswa saat demonstrasi terjadi akhir maret lalu lebih pada aksi vandalis bukan aksi anarkis. Jadi, untuk sementara saya membiarkan istilah anarkisme mahasiswa dibanding vandalisme mahasiswa. Bagi saya, biar media mainstream yang meluruskan kesalahan penggunaan istilah tersebut.

Kedua, kontra dengan aksi mahasiswa yang beraksi anarkis itu wajar saja. Asalkan dengan argumentasi yang sehat dan disampaikan dengan cara yang sehat pula. Yang patut saya sesalkan adalah mereka yang kontra dengan mahasiswa yang anarkis menyampaikan argumen-argumen penolakannya dengan bahasa-bahasa yang cenderung anarkis secara psikologis, bernada menghina, mencaci dan lain sebagainya.

Bagi saya, andai mereka berdemonstrasi di jalanan, saya yakin mereka juga akan sama anarkisnya dengan mahasiswa yang kemarin turun ke jalanan. Logikanya sederhana, jika dalam konteks wacana mereka sudah anarkis, di jalanan pun -kalau mereka punya keberanian dan terpaksa turun karena kepentingannya tercederai- ia kemungkinan akan anarkis pula. Dan, itu memicu saya menulis status provokatif dan anarkis psikologis pula sebagai bentuk jawaban dan itu saya tujukan buat mereka yang provokatif menghina demonstran. Saya reaksioner? Terserah penilaian anda. Karena saya sudah jauh-jauh hari mendukung aksi mahasiswa turun ke jalan dan berdiam diri tanpa mengeluarkan statemen provokatif hingga muncul pernyataan dari banyak kalangan yang kontra demonstrasi (anarkis).

Ketiga, anarkisme mahasiswa apapun alasannya saya tak pernah setuju. Meski tak bisa pula menyalahkan sepenuhnya pada para pelakunya. Anarkisme mahasiswa lahir, tumbuh dari ketidakpuasan-ketidakpuasan atas apa yang melanda negeri ini. Tumpah setelah puncak akumulasi kekecewaan yang menemui muaranya pada simbol-simbol sumber kekecewaan mereka. Dan boleh jadi bagian dari strategi demonstrasi (untuk yang bakar-bakar ban) dalam menarik perhatian sasaran demonstrasi (pemerintah/aparat berwenang).

Satu lagi hal yang tak bisa dihindari adalah faktor emosional dan latar belakang yang beragam. Sama halnya yang terjadi pada mereka yang kontra demonstrasi dan mengumbar anarkisme di social media. Konflik horisontal di social media pun tak terelakkan.

Keempat, bahwa anarkisme mahasiswa, buruh, dan masyarakat tidak lahir dengan sendirinya. Ia adalah reaksi anarkisme pemerintah dengan seperangkat kebijakannya, serangkaian pola hidupnya yang tak berpihak pada kepentingan rakyat secara menyeluruh. Praktik korupsi sistemik secara fundamental 'membunuh' rakyat pelan-pelan. Menggiring mereka ke jurang kelaparan dan busung lapar, haus materi dan kekuasaan, 'saling membunuh' antarsesama atau kalau tidak, mereka (rakyat) sudah 'mati' dalam hidupnya.

Tak banyak yang bisa dilakukan masyarakat kecuali meng-apologi dirinya untuk 'membunuh' kawan kantornya, kawan sepabriknya hanya untuk kenaikan pangkat seharga 4-5 digit rupiah per bulannya atau mempertahankan posisi demi mencukupi pengeluaran yang makin bertambah, barang-barang sekunder yang tiba-tiba berubah fungsi menjadi primer. Barang-barang tersier yang berubah primer bagi anak-anaknya yang siswa SMA dan mahasiswa itu dengan berbagai macam alasan.

Terakhir, resistensi dan perlawanan mahasiswa tak akan terjadi jika pemerintah mampu menciptakan dan mewujudkan kesejahteraan rakyatnya, mampu menangkap kondisi psikologis masyarakatnya. Ingat, tak semua kenaikan BBM disikapi dengan penolakan besar-besaran selama itu realistis dengan keadaan psikologis dan ekonomi rakyatnya seperti 2-3 kenaikan BBM sebelumnya.

Perlawanan kali ini karena pemerintah semakin gagal paham situasi psikologis rakyat yang semakin hari semakin kecewa atas kinerja pemerintah atas makin buruknya perilaku korupsi yang terjadi.

Seharusnya, pemerintah bebenah untuk tak bermain citra, tegaslah pada para koruptor yang membunuh rakyat secara perlahan. Kalau itu diwujudkan, minimal terlihat I'tikad serius mengarah ke sana, sesulit apapun kondisi, rakyat mau sukarela menanggung beban hidup yang berat.

Rakyat itu mudah kok, asalkan pemimpinnya serius dan memberikan contoh tauladan yang baik dengan kesederhanaan, berpihak pada kepentingan rakyat banyak, serius menghukum 'maling' uang rakyat, memberi makan cukup rakyatnya (asal tak kelaparan) pasti apapun kebijakannya akan didukung.

Pun juga dengan mahasiswa, kalau rakyat sudah menerima ikhlas kebijakan pemerintah, saya yakin penuh mereka tak akan bergerak. Mereka akan membantu pemerintah tanpa diminta untuk bersama-sama membangun bangsa. Menjadi pribadi yang kritis, merdeka, tekun dalam akademiknya.

Semoga.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

9 comments:

  1. sepakat dengan artikel ini. dilawan karena dholim!

    ReplyDelete
  2. "untuk sementara saya membiarkan istilah anarkisme mahasiswa dibanding vandalisme mahasiswa" say suka sekali dengan ini malah mas, biarlah penggunaan kata anarkis ini terus digunakan, dari pada pake kata vandalis yg nantinya malah banyak orang yang tidak tahu, sperti ibu saya, ayah saya, paman saya, dan saya yakin jika kata 'vandalisme mahasiswa' malah pesan beritaanya ngga nyampe, heheh, ngomong kok saya jadi inget bangsa vandal dan visigoth di era kemunculan germanic tribes :p

    ReplyDelete
  3. Istilah dholim iku sing apik tenan. (y)

    ReplyDelete
  4. wuiiikk apal tenan karo germanic tribes :D

    ReplyDelete
  5. yah yang namanya indonesia sudah melekat dgn yang namanya Anarkisme,jadi untuk menghapuskannya dari bumi indonesia ini sangatlah susah,dibutuhkan kemauan yang kuat juga kerja keras .

    ReplyDelete
  6. Mau nantang para dewan kalau tunjangannya dipotong mau nggak ya, kan lumayan bisa nembelin APBN yang bocor. Coba contoh Ahmadinejad, makmur Indonesia om.

    ReplyDelete
  7. @sandy: kagak bakalan mau, san. :D

    ReplyDelete
  8. @ihsan: ah, enggak juga kok. just a small part from big community/society called Indonesia...

    ReplyDelete
  9. reaksi saya pun sering spontan meski sebatas verbal. internet jadi media paling cocok.
    namun kini saya coba untuk lebih banyak beraksi nyata meski tidak turun ke jalan.
    membuat sebuah gerakan sporadis yang masif, dan semoga bisa sinergi dengan teman-teman lain untuk Indonesia yang lebih baik

    ReplyDelete