Komodo Mati, Polemik Pengelolaan Kebun Binatang Surabaya?

Setidaknya, sudah tiga kali ini terdengar matinya satwa di Kebun Binatang Surabaya melalui media-media lokal dan nasional. Terakhir yang paling menggemparkan adalah matinya komodo di tengah hiruk pikuknya polemik Pulau Komodo dalam ajang N7W.

Matinya komodo di tengah maraknya pemberitaan internasional even N7W jelas bukan berita yang enak didengar. Boleh jadi, matinya komodo di KBS kali ini merupakan kejadian alamiah, meski perlu dipertanyakan, akan tetapi memori masyarakat Surabaya dan Indonesia belumlah tuntas terkait kisruh pengelolaan KBS oleh pengurus lama dan pengurus yang baru. Hingga Kementerian Kehutanan sempat turun tangan bahkan kemudian terdengar kabar PEMKOT Surabaya siap mengambil alih. Tak hanya itu, Tri Rismaharini juga sempat mengerahkan seluruh pegawai negeri sipil Kota Surabaya untuk melakukan aksi bersih-bersih bersama di Kebun Binatang Surabaya.

Belum tuntasnya perkara pengelolaan KBS, di tambah polemik N7W, menjadikan matinya komodo di KBS menjadi sorotan luar biasa apapun alasannya. Jelas menjadi sorotan dan komoditas media, meski matinya alamiah karena usia, apalagi jika terbukti bahwa matinya komodo karena kelalaian, karena korban polemik pengelolaan KBS yang tak juga rampung.

Tak dapat dipungkiri bahwa KBS merupakan tempat rekreasi hiburan keluarga yang murah meriah. Menjadi tempat obyek kunjungan wisata keluarga Surabaya dan sekitarnya. Jika dibandingkan lima hingga sepuluh tahun ke belakang, kondisi KBS sekarang jelas jauh berbeda, masih di tahun 2011, kondisi KBS jauh dari kesan terawat maksimal.

Bau kotoran yang tak terbersihkan dengan baik menjadi suguhan pada pengunjung. Di bagian kandang ular dan aquarium ikan, tampak tak ada pembaharuan kaca dan dinding pelindung, baik untuk ular maupun ikan, termasuk kolam rendam kudanil juga tak terawat. Kaca buram entah karena kacanya atau sirkulasi airnya yang tak diganti sehingga terlihat keruh. Belum lagi kandang-kandang yang lain.

Tak bermaksud menjelekkan, saya dan keluarga kecil saya termasuk pengunjung KBS minimal setahun sekali. Kecintaan saya pada KBS sejak kecil tertanam, terbiasakan oleh orang tua yang memang suka mengajak ke kebun binatang. Maklum, jarak rumah saya dengan KBS tak lebih dari 5 km.

Jika menilik dari jumlah pengunjung, sepertinya tak ada bedanya, dengan tiket masuk 15.000 dengan tingkat inflasi saat ini masih boleh dikata relatif sama. Itu artinya pemasukan untuk KBS masih ada, belum lagi dana dari pemerintah untuk konservasi margasatwa. Saya yakin sekali cukup bahkan lebih untuk menghidupi margsatwa dan para pengelolanya.

Masalahnya masyarakat tak pernah tahu ke mana dan berapa proporsinya alokasi anggaran itu mengalir? Hingga banyak satwa mati tak terurus dan bahkan dicuri? Doh! Jangan bilang tidak cukup untuk operasional! Toh, kalau tidak cukup, Pemkot Surabaya siap mensubsidi!

Lagi-lagi kecurigaan saya kembali pada masalah polemik pengelolaan KBS, barangkali masih ada atau tersisa ketidakpuasan oknum tertentu yang menjadikan wajah Surabaya kembali tercoreng.

Solusi terbaiknya, seluruh stakeholder KBS Surabaya duduk satu meja memecahkan permasalahan ini. Pemerintah pusat dan daerah bersinergi saling lapang dada mengembalikan kejayaan KBS.

Saya berharap Kebun Binatang Surabaya segera diselamatkan, agar tak terdengar lagi berita miring hewan mati, hewan dicuri!

#saveKBS
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

12 comments:

  1. #SaveKBS pak! Mari serukan ajakan baik ini.. Saya sudah beramai-ramai kemarin bersama teman-teman di twitter :)

    ReplyDelete
  2. mudah-mudan segera ada solusinya mas

    ReplyDelete
  3. kalo dalam bahasa alay:
    "trus salah siapa? salah gue? salah temen-temen gue?"

    untuk duduk dalam satu meja, saia rasa sangat susah, karena mereka lebih senang dengan assetnya daripada tanggung jawab yang akan diembannya..

    tetangga saia yang kebetulan salah satu penjaga KBS, hanya mampu mengelus dada, trenyuh menyaksikan koar-koar para aktivis.

    tetangga saia, hanya pegawai harian biasa, hanya mampu diam demi menghidupi keluarganya.

    ReplyDelete
  4. Semoga pihak yg berkaitan segera cepat tanggap, nggak hanya teori tpi praktiknya..

    juga untuk penggunjung mohon kesadarannya untuk menjaga kebersihan Wisata Satwa kebanggaan Surabaya ini.

    #saveKBS

    ReplyDelete
  5. Setiap kali saya pulang ke sidoarjo, pasti saya menyempatkan diri ke bonbin..
    tapi sudah 6 tahun belakangan ini gk berkunjung ke bonbin, semoga keanekaragaman binatang 6 tahun yang lalu bertambah dan terus bertambah saat kunjungan lain waktu nantinya..


    #SAVEKBS

    ReplyDelete
  6. kunjungan perdana d wp ini...support & keep write :D

    salam dr Blog'e Cah Nganjuk

    ReplyDelete
  7. Benernya niat ga .. ? ngurus kebun binatang.Harusnya dananya dikuatin sama orang2 yang mengurus kebun binatang diatur dengan baik.Kalau ada yang nakal,langsung ada tendang.. wah repot,kalau begini trus

    ReplyDelete
  8. Komodo mati jadi polemik, bahkan menjadi isue internasional...Kalau manusia (masyarakat kecil) meninggal masuk tv pun nggak, apalagi mau jadi issue internasional. piss pak guru...

    ReplyDelete
  9. wah sayang banget ya kepengurusan kbs tidak optimal pak..
    padahal aset yang harus dijaga..

    ReplyDelete
  10. emane.,.,.,.,disaat genting2 seperti ini koq ya ada masalah kayak bagindas,.,..,.wes.,.,wes.,.,

    ReplyDelete
  11. Memang dibutuhkan perawatan yang baik oleh seluruh elemen masyarakat demi kelestarian hewan yang sudah menjadi ciri khas Indonesia ini.

    ReplyDelete
  12. waah gimana nih...di satu sisi lagi digalakkan supaya pulau komodo bisa jadi salah satu keajaiban dunia tp di sisi lainnya hewan komodo malah mati....:((

    ReplyDelete