Untuk Sang Kenangan [5]

Semilir angin malam di lembah dingin semakin membekukanku dalam diam tak berkesudahan. Mengukir pesonamu di langit-langit khayalku yang mengkristal mengukuhkanmu di atas singgasana kenangan.

Aku merengkuhmu dalam hujan badai tak berkesudahan. Mengusap air matamu yang tumpah dari langit. Sampai kapan episode ini berakhir?!

Kehangatanku tak mungkin bertahan lama dalam hujan badai, suatu saat lebur dalam gigil yang menjadikan kita beku selamanya.

Jika harus demikian, maka mari dengan segenap keberanian tersisa, kita songsong kematian... Atau mari kita terjang badai dengan sisa kehangatan yang ada...

 -o0O(   )O0o-


Kini, semua sudah berlalu, akhirnya  memang harus diakhiri dengan menyongsong kebekuan dan kematian. Kisah kita telah beku dan mati sejak enam musim lalu. Berakhir dengan dramatis dan sangat indah di tengah pesonamu yang luar biasa merangkum sukma.


Engkau meninggalkan selaksa keindahan, pesona dan keagungan…

Aku menunggumu dalam hujan…


Disclaimer: Tulisan ini kelanjutan dari Untuk sang kenangan [bag.1], [bag.2], [bag.3] dan [bag.4]
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment