Semangat Ramadhan Semangat Silaturrahim [3]

Masih tentang silaturrahim yang memang menjadi virus yang mewabah seantero dunia pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini. Kali ini saya akan menceritakan tentang murid saya yang tergabung dalam satu komunitas dengan nama persetan. Nama yang seram dan jauh dari kesan ketika berjumpa dengan para anggotanya.

Komunitas ini sebenarnya berangkat dari perkawanan antar teman sekelas pada saat mereka duduk di bangku kelas 10. Hingga pada saaat tulisan ini diterbitkan, komunitas ini telah berusia 3 tahun. Kerekatan mereka selama 1 tahun di kelas 10 tampaknya begitu membekas sehingga sulit bagi mereka untuk saling melupakan begitu saja.

Terbukti, selama kurun 2 tahun, mereka selalu membuat acara buka bersama sebagai agenda rutin meski mereka telah berpencar di kelas yang berbeda jurusan, malah ada yang sudah pindah sekolah 1 orang dan tinggal kelas 1 orang. Soliditas mereka tampak pada saat acara buka bersama yang kebetulan dalam 2 tahun berturut-turut saya mendampingi mereka bersama 1 orang guru lagi.

Saya pribadi pada awalnya biasa saja, sama halnya ketika mengajar kelas-kelas lainnya. Tapi, lama kelamaan, saya merasa ada yang berbeda.  Apa yang mereka lakukan sebagai sebuah kelas itu berbeda dari kelas-kelas lainnya. Perbedaan yang tampak menonjol dari komunitas ini adalah

  1. Solidnya mereka tidak terbangun oleh lamanya waktu, biasanya soliditas terbangun karena lamanya waktu, misal setelah lulus atau pada saat mereka kelas 12, di mana siswa dalam kurun 2 tahun dalam1 kelas dan 1 jurusan. Mereka ini hanya butuh 1 tahun untuk solid dan belum berpisah pun seolah-olah lama telah berpisah

  2. Soliditas mereka tidak terbangun oleh perasaan senasib sepenanggungan sebagaimana komunitas lainnya yang membuat perkumpulan karena merasa senasib. Mereka sangat beragam, ada yang kaya ada yang miskin, ada yang pintar sekali, ada yang kurang pintar meski tidak sangat. Ada yang jelek ada yang cakep. Bagi saya mereka sangat heterogen. Bahkan dari segi ideologis pun mereka juga sangat beragam. Uniknya mereka solid.

  3. Soliditas mereka tidak terbangun oleh kesamaan hobi dan minat. Sungguh, mereka sangat beragam untuk masalah yang satu ini. Herannya, mereka bisa saling ikhlas menyempatkan diri untuk datang meski harus menerima hujatan, cemoohan dari kawan-kawannya.


Satu hal yang pasti dan telah menjadikan mereka berkumpul, Kewenangan sekolah, yang menjadikan mereka harus berkumpul dalam satu kelas. Sebagaimana kelas-kelas lainnya.

Namun, yang sangat penting untuk dicatat sebagai sebuah komunitas, mereka solid dan bertahan begitu lama dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya karena faktor berikut ini:

  1. KETULUSAN MENERIMA PERBEDAAN, saya katakan pada mereka [komunitas ini bahwa salah satu perekat kenapa masih bisa bertahan adalah tidak adanya pembedaan satu sama lainnya dari aspek ekonomi terutama juga dari kemampuan akademis. Berbagai lata belakang bisa cair dan saling berkomunikasi tanpa kendala. Yang kurang, bisa tahu dan mawas diri sementara yang berlebih juga semanak tidak sombong dan mau bergaul tanpa prasangka apalagi diembel-embeli gengsi atau kompetisi.

  2. EGALITER, artinya semua anggotanya berlaku dan diperlakukan secara sama dan sederajat, baik yang pimpinan maupun yang dipimpin memiliki kesantunan khas dalam berdialektika dan berinteraksi terlebih dalam pengambilan keputusan strategis kelas

  3. HUMOR DAN CANDA YANG SEHAT, disadari atau tidak semua komunitas selalu memiliki cita rasa humor tersendiri. Kelas ini memiliki 'kegilaan'-nya yang khas dalam bercanda. Setidaknya, menurut pengakuan mereka sendiri. Tak ada canda dan tawa terlewatkan yang menjadikan mereka selalu semangat dan terpacu untuk rajin masuk sekolah. Apabila ada canda yang kebablasan, ada penengah yang mendamaikan di kala terjadi perseteruan dan kemudia suasana menjadi hangat kembali.


Tiga tahun memang bukan waktu yang lama untuk menguji ketahanan dan soliditas sebuah komunitas. Namun, setidaknya mereka jelas eksis dan menunjukkan soliditasnya dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya yang sudah termakan waktu.

Boleh jadi, saya juga akan belajar dari mereka dalam membangun komunitas, belajar dari murid saya sendiri bagaimana menumbuhkan ketulusan dan santun dalam berdialektika, egaliter dalam memandang sesama juga menumbuhkan humor yang sehat dalam melanggengkan tali silaturrahim.

Selamat untukmu PERSETAN, mudah-mudahan persaudaraan yang terjalin bisa langgeng dan menuai manfaat di kemudian hari.

[SKRINSYUT MENYUSUL KARENA INI ASELI DAN BUKAN 'HOAX']
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment