Penuhi Kami dengan Cinta-Mu

Ramadhan memang bulan keramat [baca: mulia], kehormatan bulan ini tak lagi diragukan hingga mampu menyulap dunia menjadi sangat berbeda dan begitu bermakna tiap detiknya. Seperti halnya mereka dan banyak orang di dunia menyambut ramadhan, kegembiraan dan niatan untuk melebur dosa dan segala macam rencana untuk mendekatkan diri kepada-Nya sudah saya rancang sedemikian rupa. Entahlah, saya merasa dalam tingkatan tertentu seolah-olah semua di luar kendali saya.

Ia 'ramadhan' tetap mulia, saya semakin jatuh dalam kubangan dosa

--ooO(  O )Ooo--


Hari pertama


kudapati dipenghujung senja mendekati buka, seseorang menelepon dengan suara bergetar dan akhirnya tumpah dalam tangis tak tertahan mengadukan nasibnya yang mulai ditinggalkan suami yang kebetulan sahabat saya. Ia tumpahkan semua keluh kesahnya, sementara istriku duduk terpekur mendengar percakapan kami berdua. Ia ikut prihatin karena ia kenal baik dengan suara di seberang sana.

Dalam sedu yang ia tahan, ia bertanya kepada saya, apa salahnya apa kekurangannya sehingga suami yang begitu ia cintai yang lulusan pesantren 12 tahun itu tiba-tiba menjadi sangat asing baginya. Kini, suaminya yang sahabat saya itu, jarang pulang dengan berbagai alasan padahal sebenarnya ia terlibat perselingkuhan luar biasa dengan wanita lain.

*flashback* Dan, (ampuni saya ya Allah) saya pernah berjumpa dengan mereka berpacaran di sebuah tempat di tengah kota. Entahlah, Allah ingin memeberi tahu saya akan apa yang diperbuat oleh sahabat saya itu. Kutegur dengan ramah kawan saya ituh, besoknya saya minta ketemuan berdua dengannya. Kami bicara panjang lebar, ia sampaikan keluhannya juga dosa yang ia lakukan. Aku tak bisa banyak berkata, yang kukatakan cuma: "kembalilah pada keluargamu".

Tapi, saya tetap diam seribu bahasa ketika istri sahabat saya itu bertanya apakah saya mengenal perempuan itu. Hingga pada penghujung pembicaraan, saya hanya bisa berkata: "kamu tidak salah, suamimu khilaf. Yang perlu dan penting kita perbuat saat ini adalah berdo'a bersama di bulan yang mulia ini agar suamimu (yang sahabatku) itu kembali padamu dan anakmu. "

Ah, kawanku, sahabatku, gerangan cinta macam apa yang kau cari? Do'aku untukmu:

Ya Allah, penuhi hatinya dengan cinta-Mu


--ooO(  O )Ooo--


Hari Kedua


Serupa meski tak sama, hpku berdering menjelang buka, suara laki-laki [sahabatku yang lain lagi dan juga bermasalah] di ujung sana meski terlihat tenang tapi tetap tampak tak tenang itu memintaku untuk bertemu dan berbicara dari hati ke hati tentang peliknya masalah yang dia hadapi.

Ah, kawan, kenapa juga harus kau tunjuk aku untuk mendengar semua keluh kesahmu. Aku bukan orang yang baik-baik saja kelakuannya untuk bisa mendengar pengakuan dosamu. Dosaku juga banyak bahkan mungkin lebih banyak.

Kawanku yang satu ini tergolong Entertainer, dengan kehidupan malam yang glamour dan memesona setiap jiwa muda. Ia telah menduda sejak beberapa waktu lalu dan telah menjalin hubungan kembali dengan seorang wanita yang jauh lebih muda di bawahnya. Hubungan [pacaran] yang mereka jalani hingga status yang telah pisah sungguh rumit bin njelimet. Meski telah pernah 2 kali menggugurkan hasil hubungan mereka. *Ampuni mereka ya Allah*

Kawan saya yang satu ini memang super duper aneh. Kini, statusnya ia mulai tobat -mudah-mudahn tidak kambuh- dan berharap bisa membina rumah tangga dengan sang gadisnya tersebut. Sayangnya, peliknya hubungan mereka yang ditandai dengan gadisnya yang suka selingkuh dan gonta-ganti pasangan terlebih dengan rasa tak berdosanya akan apa yang telah diperbuatnya menjadikan kawan saya ini dalam posisi rumit. Statusnya kini sudah putus dengannya dan gadisnya sudah dengan orang lain lagi dalam waktu singkat.

Satu sisi ia ingin bertanggung jawab dan menikahinya karena memang ia benar-benar telah jatuh cinta setengah mati. Tapi, di sisi lain, ia tahu betul kelakuan dan tabiat gadisnya yang suka berbohong dan punya potensi poliandri itu, hiks.. Masya Allah, saya sendiri ngeri mendengarnya.

Ah, balada cinta macam apa ini?

Kutertawakan penderitaanya... Ah, sudah bertambah pula dosa saya... Tapi apa mau dikata, ia sendiri pun mengakui ketololannya dan ketakberdayaannnya menghadapi cinta.  Kukatakan juga padanya, bahwa usia kita sudah kepala tiga, kenapa juga pusing dengan urusan 'cinta'. Sudahlah, apa tak ada perjuangan lain selain melulu cinta cinta dan cinta yang tai kucing ituh!? Kasar juga perkataanku padanya, tapi ada daya, ia sudah pasrah dan menyerah atas apa yang akan kukatakan.

Sejujurnya, saya sendiri tak berharap banyak atas dirinya setelah mengetahui betapa ia dengan sadar menerjang badai atas kemauannya sendiri. Meski, ada setitik harapan untuk meraih kemenangan besar bahwa ia berubah dan membawa perubahan pula atas gadisnya itu.

Di akhir pembicaraan, kukatakan padanya untuk berdzikir lebih banyak yang dapat diucapkan setiap waktu setiap saat dan tak harus berada dalam posisi ritual sholat, lantunan dzikir itu sepenggal kalimat singkat: Ya Allah, penuhi aku dengan cinta-MU. Mudah-mudahan bisa menenteramkan dan menenangkan jiwa. Amin

--ooO(  O )Ooo--


Setelah ia berlalu *dalam hati bergemuruh* "Saya jadi malu dengan-Mu ya Allah. Maafkan dan ampuni aku jika ternyata cintaku pada anakku, istriku, hartaku dan dunia telah membuat-Mu sedemikian cemburu. Maafkan aku ya Allah."

--ooO(  O )Ooo--


Hari ketiga


Aku masuk sekolah dan mulai aktifitas kembali dan setelah usai pelajaran, kutuliskan kisahku di ramadhan pada tahun ini yang mudah-mudahan mubarok. Terakhir, mohon maaf atas semua khilaf dan salah teriring doa untuk kita semua:


Ya Allah! Penuhi Kami dengan Cinta-Mu!

Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment