Curhatan Merdeka

Merdekaaaa... Merdekaaa... Merdekaaa....
Dirgahayu Negeriku
Slamat Ulang Tahun Bunda Pertiwiku
Semoga Engkau Lepas dari Keterpurukan Berkepanjangan

Malam ini, malam peringatan kemerdekaan negaraku, bangsaku. Untuk yang ke-63. Ada yang berbeda sungguh sangat berbeda. Aku hanyut ke masa lalu bukan urusan cinta picisan. Tayangan tv malam ini bermakna dalam. Hampir tiga jam [tentu dengan iklan] bersama Iwan Fals dengan lagu cinta, kritik, renungan yang menggugah.

Terus terang, saya bukan falsmania juga bukan fans beratnya yang sepanjang hari memutar lagu-lagunya atau memasang posternya di setiap sudut rumah saya. Iwan dengan lagunya jelas menghipnotis saya, memengaruhi hingga menancapkan ke dalam benak saya apa arti perlawanan dan perjuangan. Ia memang mengisi masa-masa pencarian saya di masa SMP dan SMA yang memang penuh perjuangan berat. Tapi, ia tetaplah iwan yang tak akan saya agungkan, saya dewakan dan saya elu-elukan apalagi histeris ketika menyaksikan konsernya.

Iwan fals bisa dan mampu mengisi saya manakala sendiri dalam sepi. Saya penggemarnya dalam sunyi, terlebih di episode Kantata, Swami, Dalbo dan fase-fase perenungannya di album hijau dan orang gila. Saya bisa menangis tersedu mendendangkan baladanya seperti lagu IBU, SIANG SEBERANG ISTANA, KESAKSIAN, AIRMATA, KARENA KAU BUNDA KAMI, juga bisa bersuara lantang ketika lirik menggugahnya terdengar seperti GELISAH, RAJAWALI, KUDA LUMPING, HIO, BONGKAR.

Dulu, mungkin saya hafal hampir semua lagu-lagunya terutama album 1910. Iwan memang telah menjadi ikon perlawanan dan perjuangan saya. Kini, malam mengumbar kembali GELISAH masa lalu. Pada awalnya, saya hanya tiduran, tapi ketika KARENA KAU BUNDA KAMI terdengar, saya tersentak bangun, mulai lirih mengikuti iwan. Saya terhanyut, emosi meluap, air mata meleleh sambil terus menyanyi. Istri yang tertidur mulai gerah sesekali meminta saya diam. Anak saya juga terganggu. Guling sana giling sini.

Semakin terharu manakala mas Jockie masuk. Ah, Kantata, Swami reuni dan berkumpul mendendangkan kembali aroma masa lalu. KESAKSIAN mengukuhkan airmata untuk tak terbendung lagi. Aku mabuk dalam kerinduan yang terobati. Setelah bertahun-tahun dijejali lagu-lagu cinta murahan. Maaf, jika menyinggung perasaan. Lagu-lagu cinta bukan tak mendapat porsi dalam hidup saya. Tetap ada meski sangat selektif.

Ya, iwan dengan berbagai kelompok dan metamorfosisnya telah menjadi bagian sejarah hidup saya. Sayang, mas Yockie dan mas Djodi tak membawa serta mas Jabo dan 'sirkus barrock'-nya. Formasi yang lengkap sebenarnya, ada inisisri, mas willy dan totok tewel juga serta yang lainnya.

Peringatan hari kemerdekaan tahun ini menjadi bermakna dengan kehadiran mereka. Dalam hati sangat berharap ada musisi-musisi muda yang mampu melahirkan karya dengan tema kemanusiaan dan perjuangan mencari kesejatian seperti  lirik LINGKARAN AKU CINTA PADAMU. Tak melulu 'cinta' yang turun ke derajat terendah manusia menjadi 'sampah'.

Kemanusiaan tak hanya cinta. Ada banyak dimensi yang bisa digali. Saya sangat prihatin dan kasihan jika jiwa-jiwa pemberontak itu semua harus lari ke aliran musik yang bagi saya tak dapat dinikmati malah memekakkan telinga. Mereka merasa merdeka memainkannya tapi menjajah kemerdekaan telinga dan jiwa pendengar lain, tentunya pada saat konser.

Saya juga amat sangat kasihan kepada mereka yang berjuang dan memberontak melawan tirani [inside-outside] dan tak memiliki pelampiasan dan penyaluran melalui musik mengingat tak adanya keterwakilan jiwanya pada musik dan lagu yang ada di pasaran. Sebagian mungkin menenggelamkan diri dalam percintaan mengikuti alur mainstream.

Saya pribadi merasa bersyukur, dalam proses pemberontakan dan perjuangan di masa pencarian, saya terdampingi dan terwakili. Kini, banyak musik instrument atau etnis yang saya ambil untuk mengisi waktu kosong saya. Memang, saya akui, mungkin saya manusia yang tak bisa beradaptasi dengan perubahan dalam peta musik tanah air. Lagu terakhir yang saya kenang penuh semangat hanya DARAH JUANG produk mahasiswa filsafat UGM itu dan AKU INGIN milik Sapardi Djoko Damono. Mungkin saya memang manusia purba... Ah, tidak juga. Di PDA, masih tersimpan lagu DEWA, Padi dan beberapa lagu barat, itu membuktikan bahwa saya tidak purbakala sekali, meski selektif dan jarang diputar. Paling sering diputar dan itu sejak kuliah dulu adalah Kitaro, Enya, Vanessa Mae, Bond dan beberapa lagu Inspirational moments lainnya.

Tampaknya saya sudah melantur terlalu jauh. Menjurus pada pemaksaan dan penjajahan atas selera musik orang lain? Jika demikian, maka inilah bentuk awal penjajahan itu sendiri!??????

Lantas, apakah tulisan yang merdeka ini juga merampas atau membatasi kreasi lain? Muda-mudahan tidak. Tapi jika memang ada yang merasa terenggut kemerdekaannya, terlecehkan selera musiknya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya hanya ingin tawar-menawar yang sepadan [meminjam istilah cak nun]. Semoga bermunculan musisi-musisi muda pembangkit gairah untuk berjuang menegakkan kemanusiaan yang tak hanya melulu cinta [yang sampah atau berujung menjadi sampah].

Amin Allahumma Amin.
Wallahu A'lam [Allah Maha Mengetahui]

Dari saya yang hanya menjadi Penikmat musik dan bukan pemain ataupun pencipta musik.


Posting penanda bahwa hiatus tak terencana sudah tercabut secara tak terencana pula. Mohon maaf kepada khalayak bloger saudara-saudara saya semua bahwa saya tidak melakukan kunjungan silaturrahim pada Anda. Setulus hati terdalam saya mohon maaf.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment