Masih Seputar Hasil UAN 2008: Bagus Tapi Tak Membanggakan

Kemeriahan prosesi wisuda siswa-i SMAN 11 Surabaya sabtu, 21 Juni 2008 lalu menyisakan beberapa catatan penting yang perlu saya utarakan di sini. Sekadar untuk berbagi dan saling bersilaturahmi. Wisuda yang diselenggarakan dengan meminjam salah satu gedung Universitas Swasta di bilangan Surabaya Selatan ini cukup bersejarah bagi SMAN 11 Surabaya, di mana salah satu prosesi wisuda dengan suasana agak megah dan dipadu dengan khidmatnya acara.

Satu hal yang mengganjal dalam rangakaian prosesi wisuda adalah saat penganugerahan siswa-i peraih nilai tertinggi UN, di mana beberapa siswa yang mendapatkan penghargaan itu tak kunjung naik ke podium saat nama mereka dipanggil untuk menerima penghargaan. Akhirnya, dengan sedikit pemaksaan [secara halus], mereka mau naik ke podium.

Pertanyaannya adalah kenapa mereka tak mau naik ke podium dengan penuh kebanggaan? Seharusnya, ketika terpilih menjadi siswa peraih nilai terbaik merupakan hal membanggakan. Lah ini malah tidak sama sekali. Pertanyaan yang sudah diketahui jawabnya oleh seluruh hadirin dan menjadi rahasia publik.

Alasannya, mereka malu menerima penganugerahan itu mengingat mereka sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa hasil yang mereka capai bukanlah hasil murni yang mereka upayakan dan tentu sangat tidak membanggakan. Mereka sadar, prosesi UN 2008 yang telah mereka lalui bukanlah upaya mereka murni, terlebih hasil nilai yang tampak di depan mata mereka sepertinya nilai mimpi. Nilai siswa-i di atas rata-rata pencapaian mereka selama bersekolah di SMAN 11 Surabaya.

Ya, ternyata siswa-i masih memiliki nurani, hasil UN 2008 mereka boleh jadi bagus, tapi tak membanggakan sama sekali, kecuali mereka yang benar-benar mendapatkannya dengan sungguh-sungguh. Lantas, pertanyaan berikutnya adalah apa bisa hasil UN dijadikan standar nasional untuk pemetaan mutu sekolah? Wallahu A'lam.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment