Insiden Monas: Sekali Kayuh Puluhan Pulau Terlampaui

Pemberitaan penyerangan FPI terhadap AKKBB di Monas pada 1 Juni lalu menyisakan tanda tanya besar. Awalnya, saya sangat tak tertarik untuk membahasnya, rentetan isu nasional yang berkembang belakangan terutama kenaikan BBM yang menyulut aksi penolakan mahasiswa di berbagai daerah, aksi demo para pendukung calon kepala daerah yang kalah dalam berbagai PILKADA juga marak di berbagai daerah hingga kasus kerusuhan UNAS yang disinyalir terjadi pelanggaran HAM berat dengan tertuduh aparat kepolisian membuat saya tak bergeming untuk menuangkan pendapat dalam tulisan.

Kegusaran saya justeru memuncak ketika terjadi penyerangan FPI terhadap AKKBP, selain karena kekerasan berbasis agama, alasan yang utama adalah seluruh perhatian media segera beralih ke kasus tersebut. Penyerangan FPI bukanlah kejadian pertama kali di negeri ini yang ditujukan ke beberapa kalangan, tapi menjadi sedemikian heboh karena yang diserang adalah orang-orang penting di balik AKKBB. Sebut saja Gunawan Muhammad jurnalis kondang dan Ahmad Syuaidi direktur Wahid Institute selaku dua tokoh yang terkena dampak penyerangan langsung. Parahnya lagi, penyerangan yang tidak memandang siapa yang diserang di mana beberapa korbannya adalah perempuan dan orang cacat menjadikan insiden ini merebak menjadi berita nasional terlebih keresahan nasional sekaligus mengundang kemarahan publik. Termasuk saya yang sedemikian marah dan mengutuk keras jatuhnya korban dari kalangan perempuan dan orang cacat. Sangat tidak islami apalagi beperikemanusiaan.

Melejitnya insiden ini serta merta menggeser secara drastis pemberitaan media massa akan penolakan mahasiswa dan masyarakat terhadap kenaikan BBM terlebih pelanggaran HAM oleh polisi di kampus Universitas Nasional. Turun drastisnya pemberitaan dampak kenaikan BBM ditopang dengan isu diamnya aparat pada saat insiden monas membuat kecurigaan saya menguat, bahwa insiden tersebut diskenario untuk kepentingan tertentu dan oleh kalangan tertentu.

Saya tak hendak berspekulasi dengan banyaknya faktor di sekeliling kejadian monas, saya hanya ingin menegaskan bahwa terjadi 'drama' politik yang melibatkan 'aktor-aktor' besar untuk mengalihkan perhatian publik dari semakin susahnya hidup mereka dampak kenaikan BBM dan dampak menjelang pemilu 2009 juga PILKADA di berbagai daerah.

Bukankah keberadaan FPI (militer sipil) berseragam agama cukup menguntungkan aparat penegak ketertiban dalam beberapa kasus di masa lalu? Dan ketika kekuatannya sudah menjadi sedemikian besar justeru menjadi ancaman dan butuh momentum untuk memberangusnya tanpa kentara yang sekaligus momentum tepat untuk mengalihkan publik dari kenaikan BBM?

Sungguh, jika demikian yang terjadi, sutradaranya sangat hebat dan layak diacungi jempol, karena dengan sekali dayung puluhan pulau terlampaui. Selamat!
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment