100 Tahun Kebangkitan Nasional

Momentum kebangkitan TI Indonesia
oleh: Abdul Ghofur
http://aghofur.com

Negara Indonesia sebagai negara berkembang, seringkali menjadi obyek daripada subyek dalam banyak bidang terutama perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Kapitaliasi dunia perangkat lunak yang menjadi hegemoni Microsoft Corporation tak bisa disanggah. Tak hanya Indonesia, bahkan negara maju sekali pun belum mampu melepaskan diri dari jeratannya. Komunitas open source yang dipelopori oleh Linus Torvald hingga dua dasawarsa sekalipun belum mampu menggeser keperkasaan Bill Gates, bos Microsoft.

Kenapa Open Source?

Pertama, biaya (cost), tak dapat dipungkiri bahwa raksasa software Microsoft memiliki banyak kelebihan yang begitu populer di kalangan pengguna komputer. Mulai dari tampilan yang user friendly hingga kemampuan multitasking dan kerja jaringan baik skala kecil hingga enterprise. Akan tetapi, semua keunggulan itu harus di bayar dengan harga yang mahal bahkan mungkin berlebihan. Sementara dunia opensource menawarkan hal yang sama tapi dengan biaya yang jauh lebih murah bahkan gratis.

Penggunaan open source jelas akan mereduksi banyak biaya yang dikeluarkan oleh pengguna, baik pengguna perorangan, perkantoran maupun korporat. Efisiensi biaya yang bisa ditekan di tingkat personal bisa mencapai 1 hingga 3 jutaan, tergantung dari aplikasi yang digunakan.

Kedua, tangguh dan aman (strong and secure), GNU/Linux sebagai sistem operasi open source, diakui banyak kalangan sebagai sistem operasi yang tangguh, handal dan aman, baik kelas personal maupun enterprise. Di level pengguna pemula, linux terutama yang berbasis GUI memiliki kelebihan yang cukup jauh melampaui windows, Linux tidak mengenal hang dikarenakan kegagalan eksekusi perintah program. Linux juga memiliki sekuriti yang kuat dari serangan virus baik offline (melalui perangkat penyimpanan) maupun online internet.

Ketiga, bebas dikembangkan dan didistribusikan (free to developed and distributed), salah satu kelebihan lain yang dimiliki linux adalah dibebaskannya pengguna advanced untuk memodifikasi kode sumber (source code) dan mendistribusikannya kembali, tentunya dengan persyaratan yang disepakati oleh dunia open source.

Pengguna mahir (pengembang, developer) bisa melakukan modifikasi untuk berbagai tujuan, misalnya mengoptimasi kinerja PC-nya, meningkatkan sekuriti, mengganti bahasa atau apa pun disertai dengan listing code-nya. Pengguna dan pengembang GNU/Linux juga bebas menyebarkan kembali hasil modifikasi dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukannya meski dengan syarat tertentu dari vendor aslinya.

Open Source menuju kemandirian bangsa

Tiga alasan di atas sudah cukup untuk melakukan perubahan, bangkit dari keterpurukan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Meski sebenarnya masih banyak lagi alasan bagi bangsa ini untuk beralih ke dunia open source.

Lantas, pertanyaan berikutnya adalah apa fungsi dan peran yang bisa diberikan oleh dunia open source bagi bangsa ini?

Pertama, Pembebasan (liberation).

Pembebasan adalah peran terbesar dan sekaligus terpenting dari akar kesejarahan open source. Upaya terlepas dari hegemoni raksasa software microsoft menjadi faktor kuat yang berkembang berikutnya, di sadari atau pun tidak oleh para pelopor dan pengembang open source. Faktor ini pula yang dirasa menjadi nyawa bagi kelangsungan hidup open source bertahan dan berkembang menjadi sepopuler sekarang.

Harus diakui, Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki pangsa pasar besar telekomunikasi dan informatika lebih sering menjadi obyek dari pada subyek. Mampukah Indonesia lepas dari ketergantungan dan segera menjadi subyek? Jawabnya, ya. Sudah banyak contoh kepeloporan di bidang ini seperti yayasan penggerak Linux indonesia. Puluhan distribusi linux Indonesia sudah tercipta melalui tangan-tangan kreatif anak bangsa. Cukup menjadi bukti kuat untuk lepas dari ketergantungan, kalau tidak boleh disebut sebagai penjajahan, di bidang teknologi komunikasi dan informasi.

Kedua, Pembentukan Karakter Bangsa (nation character building).

Meski terdengar bombastis, open source menawarkan pilihan pada bangsa ini, sebagai bangsa yang mandiri atau bangsa yang selalu bergantung. Predikat sebagai salah satu negara pembajak perangkat lunak terbesar di dunia yang menempati urutan ke-8 pada tahun 2006 menurut rilis BSA tanggal 15 Mei 2007 bukanlah predikat yang membanggakan. Meski menurun 5 peringkat, dari 3 menjadi 8 dengan penurunan sebesar 2 persen dari 87% tahun 2005 menjadi 85% pada tahun 2006.

Penggunaan open source untuk memenuhi kebutuhan perangkat lunak di berbagai bidang dengan sendirinya memberi citra pada bangsa ini sebagai bangsa yang mandiri dan bukan bangsa pembajak. Kemandirian di ranah teknologi adalah salah satu hal yang wajib diperjuangkan di tengah berbagai krisis yang tampaknya belum akan segera beranjak dari bangsa ini. Penggunaan open source sejak dini diprediksi akan melahirkan generasi-generasi kreatif yang mandiri dengan ruang kebebasan lebih dengan menjunjung tinggi tanggung jawab yang besar akan hak karya intelektual.

Ketiga, Titik Awal Membangun Industri Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi (starting point to build national insdustry of ICT),

Satu peran lagi yang dimainkan oleh open source adalah membuka pintu masuk bagi terciptanya industri nasional di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Peluang ini bukan tidak mungkin, justru sebaliknya, menjadi sebuah keniscayaan bagi bangsa ini untuk merealisasikan industri nasional perangkat lunak dan perangkat keras teknologi informasi dan komunikasi.

Modal kebebasan dan kemandirian ditopang oleh political will pemerintah serta good will rakyatnya akan menjadi kekuatan besar dalam membangun industri nasional dan mampu menjadikan bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Bangkit menjadi bangsa yang mandiri di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Referensi: berbagai sumber online


Disclaimer:
Tulisan ini sebagai manifestasi penulis dalam mengkampanyekan "Indonesia Go Open Source" meski penulis bukan seorang yang ahli di bidang open source. Segala bentuk keberatan dan koreksi atas tulisan di atas diterima dengan lapang dada sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan.

Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment