Reporter Berjilbab Mulai diterima?

Lama, postingan ini berharap nongkrong di blog, tapi apa daya beberapa agenda yang tak ingin kehilangan momentum mendahului kemunculannya. Tak bermaksud menafikan teman bloger non muslim, postingan ini lebih sekadar refleksi pertanyaan di atas kepala saya. Benarkah media televisi “ikhlas” menerima kehadiran reporter berjilbab?

Sependek pengetahuan saya, belum ada media televisi selain trans tv yang mengijinkan reportasenya diisi jilbaber, atau, memang tak ada jilbaber berminat menjadi repoter? Masih terbatasi pengetahuan saya, sepertinya teori komunikasi massa tak mengijinkan jilbaber menjadi reporter resmi? Kurang prestise? Maaf, jika pertanyaan saya dianggap berprasangka buruk.

Isu jilbab yang digulirkan di awal 90-an menemukan momentum puncaknya di pertengahan 90-an. Tak kurang dari peran besar Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab sebagai motor budaya yang juga didukung demonstrasi ke jalan para jilbaber menjadikan massa mulai melirik jilbab bukan sebagai barang yang menakutkan.

Kenapa jilbab menakutkan? Jelas karena identik dengan islam, islam di era 80-an menjadi phobia. Islam sebagai ideologi pembebasan dianggap menakutkan bagi penguasa, baik lokal maupun global. Tapi, di Indonesia, bagi saya, seperti saya duga sebelumnya, bahwa jilbab yang pada mulanya sebagai momentum pejuangan menegakkan syariah pada suatu ketika akan menjadi budaya massa yang seringkali kering makna. Bahkan, pada suatu ketika, ‘kemaksiatan’ akan menjadi barang lumrah berselubung jilbab, begitu kesimpulan diskusi saya dan rekan-rekan saya di penghujung tahun 1999. Ternyata, prediksi kami itu benar adanya. Tak tanggung-tanggung, pornografi yang beredar di internet dengan selubung jilbab bukan barang baru.

Lantas, apa relevansinya dengan reporter berjilbab? Apakah jilbab masih menjadi simbol perjuangan yang layak mendapat apresiasi di atas keangkuhan media? Atau hanya sebuah fenomena biasa di tengah jarangnya reporter berjilbab? Atau mungkin pertanyaannya, masihkah jilbab sebagai simbol perjuangan yang memiliki nilai sakral yang tinggi? Masihkah jilbab sebagai sebuah ancaman?

--ooOoo—


Sekadar informasi, istri saya masih memakai kerudung, tidak ada tendensi apapun terkait tulisan ini kecuali sekadar mempertanyakan kembali makna jilbab.


Updatedbei de wei, mengingat ini dan itu, setelah baca postingan pak sawali dan mas ridu, yang mana saya kebagian PR mengerjakan tugas MLM untuk lebih akrab dengan GPR, maka dengan ini saya putuskan untuk mengerjakan PR tersebut dengan harapan tak ada efek negatif yang muncul akibat citra MLM di dunia nyata. Wakakakaka.. *digampar aktifis MLM*Maka, kali ini saya bersedia menjadi downlinernya pak sawali (salam hormat untuk kyai saya di dunia maya) dan dengan sepenuh hati tapi tak sepenuh kantong berikut ini saya tampilkan upliner saya.. wekekekekekeke... *jadi teringet dipresentasi ama aktifis MLM* Mereka adalah:

  1. Catsy Carpe Diem

  2. Catsy Download

  3. Out of the Blue

  4. A Day to Savor and Relish

  5. A Piece of Idea

  6. Write Shy

  7. Stupid Wise

  8. onlinememorylane

  9. See Me For What You Will

  10. Michelle’s Small World

  11. Chez Francine

  12. Cronaca

  13. Le bric à brac de Cherie

  14. Life

  15. Hanna

  16. AngrianiWorld

  17. Farah

  18. Anoushka

  19. Noushy Syah

  20. Eagle

  21. Dasir

  22. Shirei

  23. Abi Bakar

  24. Rosyidi

  25. Riyogarta / Catatan

  26. Ridu

  27. Sawali Tuhusetya

  28. Gempur Media


Saya mudah2an gak salah, berada di urutan 28, sebagai upliner saya jelas beliaunya pak sawali, sementara downline saya di urutan 29.. Update postingan ini, *latah ikutan kyai saya* sekadar untuk membangun kesetaraan antar bloger yang juga sekaligus menumbuhkan dan melanggengkan rasa hormat saya untuk pak kyai saya. Beliau sudah mengajarkan banyak nilai dan etika terutama dalam dunia pendidikan. Untuk mas ridu, meski anda orang jakarta, saya salut atas kesantunan anda dalam perblogeran. Tulisan anda meski dalam posisi ofensif tapi masih sangat santun. Layak juga menjadi murid pak sawali. Hehehehe....

*bergaya aktifis MLM* hayoooooo, siapa yang mau jadi downline saya? aseli loh! dijamin gak tak ada ruginya. hehehehehehe.... ternyata, ada selentingan di sebelah saya, "itu bukan gaya aktifis MLM, itu gaya penjual obat kuat, mas!" wakakakakakaka...

Akhirnya, wassalamualaikum..... :D
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment