Political Will untuk Petani?

Artikel ini ditulis oleh Bang JSOP dan dikirimkan Kepada saya [baca: mbah sangkil] yang diletakkan di bagian komentar di artikel saya di sini. Karena pandangan seorang JSOP bagi saya cukup penting dan sangat penting bagi saya, maka tak pantas saya biarkan dia di bagian komentar, untuk itu saya jadikan artikel tersendiri yang sungguh bagi saya layak mendapatkan apresiasi yang lebih. Kepada Bang JSOP, matur nuwun sanget, juga mbah sangkil yang melalui perantaranya, bang JSOP mau singgah di blog saya.
---*****---

Pertahanan hidup paling mendasar adalah masalah memenuhi kebutuhan isi perut . Secara kebetulan wilayah kita amat sangat bersahabat dengan terpenuhinya kondisi tersebut . Namun begitulah sifat manusia yang selalu merasa tak pernah 'cukup' , bahkan lebih di-perparah lagi situasinya oleh pengelola negerinya sendiri .

Bahwa beras adalah makanan pokok kita sejak jaman nenek kakek moyang kita dan bukannya ubi/talas maupun gandum, koq bisa sampai lupa dipelihara keberlanjutan sistem produksi dan cocok tanamnya. Demikian juga dengan kebutuhan tempe tahu , ikan serta beberapa jenis lauk pauk lainnya. Ini adalah masalah kultur, kebiasaan dan kebutuhan yang sudah mendarah daging bagi terciptanya manusia-manusia yang kemudian bisa disebut orang Indonesia. Artinya bukan sekedar masalah selera yang bisa berubah-ubah atau diubah-ubah sekehendak hati orang lainnya saja. Lha koq menteri pertaniannya malah bisa ngomong "tempe dan tahu kan bukan masalah penting..." . Jangan sampai suatu saat nanti dia juga berkata " ah..... beras sudah kuno ... mari kita sekarang mengkonsumsi hapermut yang lebih bernilai kalori supaya bisa lebih pinter seperti orang dari luar negeri..."

Bukankah ini menunjukkan bahwa 'mereka' tidak memahami tugas dan posisi mereka sebagai abdi/pelayan bagi masyarakat petaninya sendiri. Ketika modernisasi diberlakukan dan dibukanya pintu lebar-lebar bagi industri pangan seperti ayam goreng gaya kolonel kentucky disebelah warung mbok berek, mc Donnald dengan kentangnya disetiap sudut-sudut penjuru kota hingga sudah ada yang masuk ke wilayah kampung. Pertanyaannya harus kita jawab dulu, sebelum kita sepakat mencari solusi bagi keberlanjutan dunia pertanian atau kelangsungan kerja para Pak Tani dan Bu Tani kita , antara lain;

  • Masihkah kita sepakat bahwa adalah nasi , bukannya roti dari tepung gandum/terigu sebagai makanan utama sehari-hari kita? Lalu bisa kita sambungkan urutan-urutan kebutuhan lainnya bagi pasangan si "nasi" tersebut. Setelah tahapan ini terjawab dan tersepakati bersama, maka

  • akan lebih ada manfaatnya bila kita sepakat juga untuk berbondong-bondong menaruh kepedulian yang besar bagi keberlangsungan dunia pertanian Pak Tani & Bu Tani kita. Sebab bila tidak demikian, maka langkah-langkah yang akan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat nantinya hanya akan dijadikan issue politiking guna mencari muka saja. Sudah biasa bukan..?

Turun kesawah beramai-ramai sambil berbincang-bincang dengan para petani berbecek-becek/berlumpur-lumpur, padahal di ruang kantornya baru saja dia menandatangani ijin masuknya/ import komoditas hasil pertanian yang bersangkutan tersebut .
Saya sama sekali tidak meremehkan upaya membangun kesadaran dari berbagai kelompok masyarakat kita . Namun sejarah sepuluh tahun terakhir ini nyata-nyata telah memberikan pelajaran konkrit untuk bisa kita jadikan cermin bagi berbenah diri .
Lha... masih mending jaman nya Pak Harto, kalau kita bicara dalam konteks industri pertanian kita, sialnya ya hanya itu yang paling bisa dibanggakan .

Maaf , kalau alur komentar saya lebih condong menyentuh wilayah politis, karena sejatinya memang masalah kebutuhan isi perut kita adalah masalah politis. Karena itu punya nilai kepentingan yang teramat tinggi bagi para penguasanya. Sementara saya taunya mungkin hanya sebatas sudah diletakkan diatas meja makan kita . Sesaat dia absen... baru saya bingung.. apakah gerangan yang sedang terjadi ..,

salam.

jsop
---*****---

Catatan:

JSOP kependekan dari Jockie Soeryoprayogo adalah musisi kondang yang biasa cangkruk dan bermain musik bareng dengan pak Budi Rahardjo saat-saat ini.. Dulu personel God Bless dan juga menggawangi Kantata Taqwa besutan Setiawan Djodi dengan vokalis handalnya Iwan Fals dan Penyair Besar "Si Burung Merak" W.S. Rendra.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment