Saatnya Memiliki Industri Nasional

Saatnya Memiliki Industri Nasional sesuai Karakteristik Indonesia yang Agraris dan Maritim


Dari pada capek memikirkan sesuatu yang abstrak dan tak kunjung berhenti memenuhi kepala, mending saya mencari sesuatu yang lebih nyata. Sejujurnya, ini ungkapan kekesalan saya yang tak kunjung bangga menjadi bagian dari bangsa ini. Tapi, dengan jujur pula, ini ungkapan ekspresi cinta saya yang berlebih pada bangsa ini tanpa mampu melakukan sesuatu kecuali hanya menulis dan bersuara serta menyebarkan kegelisahan-kegelisahan saya kepada murid-murid saya di sekolah dan ke rekan bloger melalui blog ini.

-----


Kemajuan dalam banyak bidang di Indonesia dengan segala pencapaiannya ternyata dalam pandangan sempit saya tak mampu menjadi negara yang memiliki produk nasional yang bisa dibanggakan dan dimiliki sendiri, diolah sendiri, dikelola sendiri. Dan, menjadi industri yang layak mendapat tempat di kancah international.

Proyek besar ini sudah pernah dimiliki Indonesia melalui IPTN [Industri Pesawat Terbang Nurtanio] atau PTDI [PT. Dirgantara Indonesia] yang kini dirundung masalah tak henti-henti. Padahal ribuan ahli terbaik dari berbagai bidang keilmuan berkumpul di sana. Sayang, kalau kemudian harus terbelit masalah yang pelik hingga kini.

Angan atau khayalan saya mungkin terlalu muluk. Saya hanya berpikir dangkal, tanpa landasan teori yang ndakik-ndakik seperti para akademisi dengan sederet referensi di akhir penulisan, saya hanya membayangkan Indonesia memiliki beberapa industri nasional unggulan yang menjadi pilar ciri khas Indonesia. Industri nasional ini, anggap saja kecemburuan saya melihat malaysia dengan Protonnya atau mungkin sudah bukan kecemburuan lagi, tapi sepertinya sudah meningkat ke level kewajiban.

Bayangan saya, Indonesia merupakan negara agraris dan terutama maritim, tentunya membutuhkan perangkat infrastruktur yang super duper canggih agar menjadi yang terkemuka di dunia. Terkemuka dalam penghasil pangan sekaligus teknologi pengolahannya serta pelestariannya. Terkemuka dalam teknologi pertahanan maritim, pengelolaan sumber daya kelautan dan yang berkaitan dengan wilayah perairan.

PERTANIAN

Andaikata pertanian Indonesia ini di-support oleh teknologi yang dihasilkan dari industri dalam negeri, baik dari hulu, proses, hingga hilir dan dikelola dengan benar, bukan tidak mungkin ketahanan pangan akan mencapai titik paling stabil dalam sejarah, bahkan sangat dimungkinkan sebagai penghasil pangan dunia yang wajib dijaga bersama stabilitasnya oleh dunia internasional.

Misalnya, dari proses penggarapan sawah, Indonesia memiliki industri alat ringan hingga terberat untuk membantu petani dalam penggrapannya. Pembibitan, Indonesia memiliki industri penghasil bibit unggulan tebaik dunia yang di-support para akademisi dan ilmuwan pertanian. Kemudian, pada proses perawatan,Indonesia telah memiliki pabrik pupuk yang terjaga stabilitas produksinya, meski pada beberapa fase mengalami kelangkaan akibat dari sebab yang tak diketahui. Begitu seterusnya sampai dengan panen dan penyimpanan hingga distribusi.

Masing-masing proses ada industri yang siap men-support dunia pertanian. Jika persoalan yang muncul kemudian adalah biaya yang dikeluarkan terlalu mahal, maka bisa dipikirkan aternatifnya, misal, jika satu industri hanya untuk memenuhi alat ringan pertanian, sementara biaya dengan kuntungan irrasional, maka industri tersebut bisa melakukan diversifikasi usaha utnuk sektor lain agar tertutupi kerugiannya, asal dengan jaminan, bahwa tugas utamanya tetap terjaga, men-support pertanian. Selebihnya, kalkulasi ekonomi lebih baik saya serahkan pada ahli ekonomi. Namun, setidaknya ada proyek pemerintah yang harus mengagagas serius hajat hidup orang banyak tanpa menggantungkan dari negara lain dan tentunya merugikan rakyat.

Maritim [Perairan-Kelautan]

Tak bisa disangkal bahwa wilayah Indonesia sebagian besar adalah perairan, juga tak bisa disangkal bahwa maritim kurang mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Dari segi pertahanan, luasnya wilayah perairan Indonesia jelas membutuhkan penjagaan yang relatif lebih sulit dari pada daratan. Dibutuhkan teknologi yang mampu memantau setiap batas perairan Indonesia dari tangan asing. Membutuhkan peralatan yang lebih dari memadai untuk menjaga kedaulatan RI dari maling-maling yang tak bertanggung jawab.

Indonesia membutuhkan kapal-kapal canggih yang tentunya jika memiliki industri tersebut, tak perlu kesulitan untuk mempertahankan kedaulatan RI. Transportasi air pun tak perlu diwarnai kecelakaan yang merenggut ribuan penumpang akibat kapal yang tak layak pakai.

Di segi SDA kelautan, masyarakat pesisir tahu betul kekayaan alam lautnya, bagaimana memanfaatkan dan melestarikan, yang kesemuanya didukung teknologi yang serba canggih dengan harapan meningkatkan taraf hidup manusia juga ekosistem lingkungan terjaga. Jika demikian, bisa saya bayangkan, seluruh penjuru dunia akan belajar pada Indonesia bagaimana bertani dan melaut dengan benar tanpa merusak alamnya.

Pertanyaan saya, bagaimana mungkin sebuah negara bangsa akan menjadi bangsa yang besar jika ia mengingkari jati dirinya dengan menjelma menjadi bangsa lain, negara lain?

-----


Ah, kiranya waktu berkhayal saya harus segera diakhiri, jika ada kekuatan pikiran, akan disambung lagi
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment