Pekerjaan Domestik itu Produktif

Pekerjaan rumah tangga yang lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan [biasa disebut pekerjaaan domestik] seringkali tidak diakui sebagai pekerjaan yang produktif. Tidak menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi bahkan tak menghasilkan sama sekali. Sehingga masyarakat memberi penilaian, ibu rumah tangga bukanlah sebuah profesi yang menguntungkan apalagi memiliki nilai gengsi.

Paragraf di atas bukanlah barang baru. Tema ini menjadi bahan kajian yang serius lagi mendalam bagi aktifis gerakan perempuan. Menjadi penting untuk diungkap karena materi ini masih sangat relevan dengan keberadaan dan keberlangsungan keluarga yang hidup di dunia modern yang mengarah ke era posmo bahkan mungkin malah sudah posmo. Kontrak sosial di masyarakat yang berlaku memang masih belum menghargai posisi mereka terutama perempuan yang mayoritas berkutat di sektor domestik.

Pekerjaan mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak tidak dianggap sebagai pekerjaan yang menghasilkan keuntungan finansial sebagaimana pekerjaan di luar rumah [sektor publik] seperti menjadi direktur, manager, sekretaris, guru, pegawai di instansi negara dan swasta. Akibatnya, menjadikan mereka yang bekerja di sektor domestik tidak mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak dianggap menyangga perekonomian keluarga, tidak menyumbang angka pertumbuhan ekonomi baik di tingkat desa, kecamatan, kota bahkan negara. Meski menjadi berharga ketika pekerja domestik itu lari ke luar negeri menjadi TKI. Tiba-tiba saja mereka menjadi pahlawan devisa, bahkan menyumbang angka cadangan devisa negara. Toh, mereka tetap dipandang sebelah mata. Payung hukum yang tak jelas, perlindungan dan advokasi yang lemah menjadikan sederet penderitaan mereka tak kunjung reda. Sekedar pengakuan saja, tetap menjadi barang mahal di negeri ini untuk mereka.

Kompleksitas akar masalah dari kurangnya penghargaan masyarakat akan pekerjaan domestik menjadi menarik untuk dikaji dan disampaikan ulang secara meluas. Bahwa membicarakan tema ini tak akan cukup dengan satu artikel sependek ini. Perlu pemahaman mendalam dan disampaikan secara berkala yang jelas akan menguras tenaga, waktu dan pikiran untuk membaca ulang sederet referensi yang ada. Untuk kemudian didiskusikan, dicari rumusan sederhana, lalu diformulasikan beberapa solusi yang pantas dan layak untuk diperjuangkan. Tentunya dengan keterbatasan media yang ada.

Bisa dibayangkan jika sebuah keluarga baik istri dan suami bekerja di sektor publik sementara sektor domestik diserahkan kepada pekerja rumah tangga atau disingkat PRT [biasa disebut dengan Pembantu Rumah Tangga]. Anggaran sebulan yang dikeluarkan untuk PRT saja mencapai 400-600 ribu sebulan. Untuk baby sitter professional menyentuh angka di kisaran 600 ribu hingga 1 juta, bergantung pada masing-masing daerah. Jika dikalkulasi secara kotor, pengeluaran keluarga tersebut untuk pekerjaan domestik mencapai angka 1 hingga 2 juta. Belum termasuk biaya lain-lainnya. Maka sepantasnya masyarakat harus mengakui bahwa pekerjaan domestik itu pekerjaan yang mulia. Menopang keberlangsungan keluarga. Bernilai ekonomi yang tinggi. Menghemat finasial bulanan yang tak rendah nilainya bagi mereka yang memiliki istri bekerja di sektor publik.

Jika tidak, maka pertanyaannya, berapa harga yang pantas dikeluarkan suami untuk menggaji para istri yang bekerja 24 jam non-stop? Atau seberapa besar pengertian dan penghargaan pada istri untuk sekadar berbagi dan sekadar menanamkan nilai bahwa istri layak dihargai, dihormati dan dijunjung tinggi?

—-*—-


Artikel ini saya persembahkan untuk istri saya tercinta sebagai bentuk pengakuan dosa dan kelemahan bahwa saya tak akan pernah bisa menggajinya dengan layak dengan pilihannya untuk bekerja di sektor domestik. Merawat saya dan anak saya, menyiapkan secangkir kopi untuk melepas kebutuhan citarasa. Kasur yang selalu rapih yang siap saya tiduri saat saya lelah. Sekaligus penghargaan dan pengakuan saya kepadanya bahwa pilihan ekstrimnya itu sungguh sangat mulia dengan gelar akademik Universitas Gadjah Mada di belakang namanya.

Artikel ini juga menjadi penanda, sebagai awal dari rangkaian tulisan yang akan saya tuliskan untuk mereka, "para perempuan". Juga sebagai bentuk kembalinya saya untuk belajar dan belajar.
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment