Belajar Memikirkan Petani: Sekadar Membantu Ide


Gambar disumbang oleh Mbah Sangkil


Kegelisahan ini masih terus berlanjut, saya bukan petani, saya bukan orang yang terbiasa dengan lumpur bahkan saya merasa sangat aneh berada di tengah sawah. Itulah saya yang terbiasa di kota dengan perangkat digital. Akan tetapi, perut saya sangat dekat dengan petani, dengan sawah, dengan lumpur. Setiap butir nasi yang saya makan, usus di perut saya berdzikir syukur untuk mereka yang telah menjaga keberlangsungan hidupnya.

Mungkin ini yang akan saya jadikan bahan diskusi dengan teman-teman bloger yang bersedia ikut urun rembug dengan saya memikirkan petani. Meski, bukan berarti menafikan mereka yang tak urun rembug, saya masih yakin bahwa mereka para bloger sangat concern dengan kebutuhan perut mereka yang juga pasti concern dengan nasib petani.

Saya berharap, pembahasan kali ini lebih komprehensif dengan mengupas permasalahan petani dari berbagai sudut pandang. Tema masih seperti artikel sebelumnya, "Saatnya Memiliki Industri Nasional sesuai Karakteristik Indonesia yang Agraris". Rencana saya, pembahasan difokuskan pada poin berikut:

  • Sejarah Masyarakat Agraris Indonesia

    1. Masa Majapahit

    2. Masa Penjajahan

    3. Masa Orde Lama

    4. Masa Orde Baru

    5. Masa Reformasi



  • Permasalahan yang dihadapi Petani

  • Infrastruktur Pertanian dari Hulu hingga Hilir

  • Kebijakan dan Kemauan Politik Pemerintah

  • Pendidikan Petani

    1. Pengelolaan dan Pelestarian Lahan Pertanian

    2. Hak dan Kewajiban Petani



  • dan lain-lainnya [Optional, butuh masukan dari kawan-kawan bloger lainnya]


Pembahasan ini akan menjadi serangkaian tulisan berseri [di blog ini] dan pararel [bersamaan dibahas di blog kawan bloger lainnya yang bersedia]. Sumber referensi adalah pemikiran setiap bloger dalam bentuk komentar dan tulisan khusus. Artikel terkait petani akan mengalami pembaruan [update] terus-menerus berdasarkan masukan dan informasi dari mana pun yang terkait dan berguna bagi semua.

Bagi yang bersedia berkontribusi menulis di blognya sendiri, saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Komentar yang masuk pun saya anggap sebagai rerferensi untuk perbaikan tulisan saya.

Terakhir, catatan untuk saya pribadi,

  1. upaya ini hanya sekadar menjadikan mainan yang mahal ini [baca: blog] memiliki manfaat untuk kebutuhan perut saya pribadi. ;-)

  2. artikel yang saya tulis nantinya bukanlah tulisan ilmiah yang dihasilkan oleh seorang akademisi yang memang ahli di bidangnya, hanya tulisan seorang pengajar dan bukan petani yang sedang ingin menjaga keberlangsungan perutnya ;-)


Saat ini, saya sedang sibuk mencari dan membaca referensi-refernsi terkait topik di atas. Mohon bantuannya..
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment