Tentangku [1]

Tentangku dan satu orang muridku dan tetangga yang muridku juga [1]

Sabtu, 9 Desember 2006 - [BAGIAN 1]

Begitu banyak anugerah yang kuterima hari ini, di sela himpitan pekerjaan yang mangkrak menunggu sisa otak tak terpakai. Entah, banyak beban yang tersangga tampak tak membuatku goyah, tinggal menunggu saatnya teguran datang dan aku tinggal bilang kalau hariku tak mampu kusangga sendirian.. hahahahaha. Dagelan seorang yang sok sibuk!

Keseharianku dengan ‘mengajar’ telah menghabiskan waktu dan otakku hingga tak sempat tetirah sejenak… menikmati hidup yang terasa seperti dipacu sedemikian cepat dan tanpa mampu memaknainya dengan lebih baik.

Hari ini melalui dua orang adikku, tadinya satu orang lantas menjadi dua, menarikku, menjebloskanku dalam “masa lalu yang bagiku tidak ada bandingnya selama umur hidupku hingga saat ini”.. Masa di mana aku menjumpai sastra sebagai sebuah ‘agama baru’, menawarkan seperangkat bahkan tak terkira nilai-nilai. Walaupun aku bukan seorang tukang sastra, sastrawan ataupun seniman. Hanya ‘penikmat’, ya! Hanya penikmat! Tapi sungguh, telah banyak mengubah pola pikirku melihat dunia. Pengalaman tak ternilai.

Aku sungguh menikmati pembicaraanku dengan keduanya.. bermula dari email kiriman adik yang muridku yang kebetulan sedang berada di Djodja……………………… Irama dan aroma djogdja mulai mengental ditaburi langit setengah mendung yang mengumbar kenangan segala jaman. Aku katakan padanya, andai saja aku di djogdja, akan aku ajak mereka jalan-jalan keliling djogdja bersama istri dan anakku.

Email dari djogdja mengantarkanku pada lembar yang entah puisi, sajak atau prosa, aku sendiri tak tau. Ada 4 judul yang semuanya sudah aku upload di blog-ku. 4 karya yang sempat aku tuliskan di antara ribuan calon karya yang terpendam dalam batinku dan tak mampu kutuangkan dalam ketikan atau coretan. Dan sungguh, karena aku memang ternyata tak pernah berani menuangkan hatiku yang sungguh puitis tapi tertutup ketakutan dan rasa malu. Hahahahahha.. dan memang demikian adanya. Aku bukan sastrawan!

Lantas, desember menjelang akhir tahun selalu memberiku keanehan tersendiri di luar banyaknya keanehan momen-momen lainnya. aku mulai menceritakan latar terjadinya karyaku. Seperti sok sastrawan yang berapi-api menceritakan hebatnya sastra.. puiihhh..

Perbincanganku dengan keduanya, seputar masa laluku, latar pendidikanku, tentang agama dan sastra. Aku bercerita tentang mengapa hidup sedemikian pendeknya dihabiskan hanya untuk bertengkar pamer kekuatan dan bersitegang antar sesama manusia. Mengapa manusia telah banyak membunuh kemanusiaannya sendiri. Gak usah beda agama, ras, suku atau kulitnya, dalam satu agama saja masih banyak terjadi perselisihan perseteruan permusuhan yang mengkronis menahun meng-abad. Hahahaha... ini yang bikin kita terjatuh dan terjatuh tanpa mampu memaknai kejatuhan kita yang entah sudah berapa juta kali.. kejatuhan kita sebagai manusia menjadi hanya sekedar mamalia yang punya bahasa tanpa budi.


Lanjutkan ke tentangku [2]
Share on Google Plus

About Gempur Abdul Ghofur

0 comments:

Post a Comment